Hasil Survei GoodStats 2024 mencatat kontribusi perempuan terhadap pendapatan rumah tangga di NTT mencapai 42,4%, melampaui angka rata-rata nasional yang sebesar 36,1%.
Peran sebagai tulang punggung ekonomi dijalankan melalui program agroforestri bambu (Mama Bambu) dan Kebun Pangan Perempuan (KPP).
>>> Argentina Hadapi Aljazair pada Laga Pembuka Grup J Piala Dunia 2026
Gerakan mandiri ini berfokus pada perbaikan lingkungan, pemenuhan pangan, serta peningkatan kesejahteraan keluarga untuk menekan angka kemiskinan.
“Kebun Pangan Perempuan menjadi pintu masuk strategis untuk memperkuat ketahanan ekonomi keluarga sekaligus meningkatkan posisi perempuan dalam pengambilan keputusan rumah tangga.
Ini bukan sekadar program kebun, ini strategi penguatan perempuan dan keluarga dari desa.
Ketika perempuan berdaya, ekonomi lokal tumbuh, pendapatan asli daerah meningkat, dan kesejahteraan masyarakat ikut terangkat,” papar Veronica.
Sektor kehutanan juga mencatat sejarah baru pada Mei 2026 saat negara menyerahkan Surat Keputusan (SK) Perhutanan Sosial kepada enam kelompok tani hutan perempuan di NTT.
Lahan yang diserahkan untuk dikelola mencapai total 648 hektare.
Langkah ini menjadi terobosan penting karena dari total 12,7 juta hektare alokasi hutan nasional, pengelolaan yang diserahkan kepada kelompok perempuan terhitung sangat jarang.
Penyerahan hak ini memosisikan perempuan NTT sebagai pemimpin dalam memulihkan ekosistem hutan sekitarnya.
Kegiatan Weaving Wonders ini turut mendapat dukungan dari pihak swasta, termasuk Grup Astra. Mereka menampilkan beragam karya masyarakat yang berasal dari Desa Sejahtera Astra serta Yayasan Astra.
>>> Nico Paz Batalkan Rencana Kembali ke Real Madrid, Pilih Bertahan di Como
“Astra meyakini bahwa budaya, kearifan lokal, dan pemberdayaan masyarakat merupakan aset penting yang perlu terus dijaga dan dikembangkan sebagai bagian dari pembangunan Indonesia yang inklusif dan berkelanjutan untuk hari ini dan masa depan Indonesia,” kata Chief of Corporate Affairs Astra, Boy Kelana Soebroto.