Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka menegaskan Indonesia tidak boleh hanya menjadi pengguna kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).
Menurutnya, Indonesia harus mampu menjadi pemain sekaligus penguasa teknologi yang berkembang pesat ini.
>>> Gempa Palu Ganggu 29 Situs BTS, 21 Masih Padam
Dalam unggahan di akun Instagram miliknya, Gibran menyampaikan bahwa AI bukan lagi teknologi masa depan. "AI adalah hari ini.
Kita tidak bisa lagi menutup mata atau sekedar menjadi penonton. Kita harus menjadi pemain, kita harus menjadi penguasa teknologi tersebut," ujarnya, dikutip Selasa (16/6/2026).
Pernyataan itu disampaikan di tengah masifnya perkembangan AI global yang mulai mengubah berbagai sektor. Mulai dari pendidikan, industri kreatif, hingga dunia kerja.
Gibran menilai perkembangan tersebut harus dipandang sebagai peluang bagi Indonesia untuk mengejar ketertinggalan. Sekaligus meningkatkan daya saing bangsa.
Ia menekankan generasi muda Indonesia memiliki kesempatan besar memanfaatkan AI. Sebab, banyak teknologi canggih kini tersedia secara terbuka atau open source.
>>> Kiper Reza Arya Pratama Resmi Tinggalkan PSM Makassar
"Kabar baiknya, banyak sekali teknologi AI canggih yang sekarang sifatnya open source. Ilmu gratis, kodenya terbuka, bisa diakses siapa saja.
Ini kesempatan emas bagi talenta berbakat Indonesia," ungkapnya.
Gibran mengajak pelajar untuk tidak hanya menjadi pengguna teknologi. Mereka juga harus memahami cara kerja dan memanfaatkannya untuk meningkatkan kemampuan diri.
Menurutnya, AI dapat membantu proses belajar, mencari informasi, memahami bahasa asing, hingga menyederhanakan materi pelajaran yang kompleks.
Meski demikian, ia mengingatkan penguasaan AI harus dibarengi dengan kemampuan berpikir kritis. AI seharusnya menjadi alat untuk mempercepat proses belajar dan berkarya, bukan menggantikan kemampuan berpikir manusia.
>>> Kemenkeu Salurkan KUR Rp 124,7 Triliun hingga Juni 2026
"Gunakan AI untuk memicu kreativitas, bukan untuk menggantikan kemampuan berpikir kalian sendiri," imbaunya.
Gibran juga menyoroti pentingnya etika dalam pemanfaatan AI. Ia mengingatkan teknologi tersebut dapat memberi manfaat besar, tetapi juga berpotensi disalahgunakan.
"Teknologi tanpa etika itu berbahaya.
AI bisa digunakan untuk membuat konten positif, tapi juga bisa dipakai untuk menyebar hoax, melakukan plagiarisme, atau melanggar privasi orang lain," tegasnya.
Gibran mengatakan penguasaan teknologi dan penerapan etika harus berjalan beriringan. Hal itu penting jika Indonesia ingin mewujudkan visi Indonesia Emas 2045.
>>> Prabowo Subianto Sambut Presiden Jerman di Istana Negara
"Di tangan yang menguasai teknologi, Indonesia Emas 2045 bukan lagi sekedar impian, tetapi sebuah kepastian," pungkasnya.
