Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melonjak signifikan sebesar 17,09 persen dalam sepekan terakhir.
Pada penutupan perdagangan Senin (15/6), IHSG berada di level 6.254,96, setelah sebelumnya sempat merosot ke posisi terendah 5.342,13.
>>> Studi Ungkap Ciri Kepribadian yang Hasilkan Banyak Uang
Meski menguat tajam, pasar modal dalam negeri masih mencatatkan aksi jual bersih oleh investor asing.
Data RTI Business menunjukkan net foreign sell mencapai Rp105,86 miliar pada hari tersebut.
Akumulasi aksi jual bersih penanam modal asing di pasar saham sepanjang tahun 2026 telah menyentuh angka Rp67,34 triliun.
Penguatan IHSG Belum Tandai Pulihnya Kepercayaan Asing
Head of Research Phintraco Sekuritas, Valdy Kurniawan, menilai penguatan indeks belum menjadi indikator pulihnya kepercayaan investor internasional.
"Rebound signifikan IHSG tidak serta-merta berarti kembalinya dana asing ke dalam negeri," ungkap Valdy.
Pelaku pasar saat ini tengah menanti pengumuman penting dari lembaga pembuat indeks internasional.
>>> MPL Indonesia dan Kemenekraf Luncurkan Maskot Suga untuk Dorong Industri Kreatif
Valdy menyebut Global Market Accessibility Review dari MSCI dan rebalancing indeks FTSE pada 19 Juni kemungkinan besar akan mempengaruhi pergerakan IHSG pekan depan.
Di sisi lain, sejumlah saham emiten besar mencatat kenaikan harga yang pesat. Saham gabungan Grup Bakrie dan Salim melesat 24,53 persen ke Rp660.
PT Chandra Asia Pacific Tbk (TPIA) milik Prajogo Pangestu naik 13,51 persen ke Rp2.100.
PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) dari Grup Djarum naik 13,37 persen ke Rp390.
BUMN PT Aneka Tambang (Persero) Tbk (ANTM) menguat 9,82 persen ke Rp3.130 per lembar saham.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menjelaskan bahwa kejatuhan harga saham-saham tersebut sebelumnya akibat pengumuman MSCI dan FTSE justru membuat nilai valuasinya menarik.
"Dengan adanya saham-saham yang sudah terkoreksi cukup signifikan, valuasi saham-saham tersebut sudah sangat menarik bagi investor untuk melakukan akumulasi," ungkap Nafan.
>>> Nusantara Sawit Sejahtera Bagikan Dividen Final Rp119 Miliar
Menurut Nafan, pergerakan ini menjadi sinyal awal masuknya kembali dana investor global secara bertahap ke Indonesia.
"Itu sebenarnya sudah mencerminkan bahwa sudah mulai kembalinya optimisme dan berkurangnya sikap risk of investor global," pungkasnya.
Direktur Infovesta Utama, Wawan Hendrayana, menilai posisi IHSG sebelumnya sudah masuk dalam area jenuh jual ketika berada di bawah angka 5.400.
"IHSG sendiri memang sudah oversold saat menyentuh 5.400 an dan saat ini sedang dalam fase rebound," ungkap Wawan.
Wawan mengingatkan bahwa peredaan ketegangan geopolitik antara AS dan Iran yang sempat membuka kembali Selat Hormuz serta menurunkan harga minyak dunia menjadi pendorong utama kenaikan bursa.
Namun, ancaman aksi ambil untung tetap mengintai.
>>> Aljazair Tantang Argentina di Laga Pembuka Grup J Piala Dunia 2026
"Tentu saja dengan kenaikan yang signifikan dalam 1 minggu, sangat mungkin akan terjadi profit taking bila katalis negatif datang," pungkasnya.
