⌂ Beranda News Harga Pertamax Naik, Antrean BBM Mengular di SPBU

Harga Pertamax Naik, Antrean BBM Mengular di SPBU

Harga Pertamax Naik, Antrean BBM Mengular di SPBU
Antrean panjang kendaraan di SPBU akibat kenaikan harga Pertamax
A A Ukuran Teks16px

PT Pertamina Patra Niaga resmi menaikkan harga bahan bakar minyak nonsubsidi jenis Pertamax dan Pertamax Green 95 mulai Rabu, 10 Juni 2026.

Kebijakan ini memicu peralihan konsumsi ke Pertalite yang mengakibatkan antrean kendaraan mengular hingga 500 meter di Pangkalan Bun, Kabupaten Kotawaringin Barat.

>>> Konflik AS-Iran Picu Penurunan Harga Emas ke Level Terendah

Penyesuaian Harga dan Dampaknya

Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth MV Dumatubun, menjelaskan bahwa langkah ini diambil setelah melalui proses evaluasi berkala bersama regulator.

Formula harga baru tersebut tetap mempertimbangkan pergerakan harga minyak dunia serta tingkat keekonomian pasar saat ini.

"Penyesuaian harga Pertamax dan Pertamax Green dilakukan setelah melalui proses evaluasi sesuai formula harga yang ditetapkan pemerintah.

Harga jual tersebut diputuskan dengan tetap dikoordinasikan dengan pemerintah sebagai regulator, dan menjadi bagian dari upaya menjaga keberlanjutan penyediaan energi dan distribusi BBM berkualitas bagi masyarakat terus berjalan optimal," ujar Roberth.

Melalui kebijakan terbaru ini, Pertamina menetapkan harga Pertamax RON 92 menjadi Rp16.250 per liter dari semula Rp12.300 per liter untuk wilayah tertentu.

Varian Pertamax Green 95 mengalami kenaikan dari Rp12.900 per liter menjadi Rp17.000 per liter. Sementara itu, Pertamax Turbo dan Pertamina Dex tidak mengalami perubahan harga.

Pihak Pertamina memastikan bahwa proses distribusi dan pasokan bahan bakar ke seluruh jaringan pengisian ulang tetap berjalan normal di tengah perubahan harga ini.

"Kami memastikan pasokan Pertamax dan Pertamax Green tetap aman serta tersedia di jaringan SPBU Pertamina.

>>> Kenaikan Harga Pertamax Dinilai Belum Dorong Masyarakat Beralih ke Mobil Listrik

Masyarakat dapat memperoleh informasi harga BBM terbaru melalui kanal resmi Pertamina, Pertamina Patra Niaga, maupun aplikasi MyPertamina," tambah Roberth.

Keluhan Pengemudi Ojek Online

Di sisi lain, tarif baru ini berdampak langsung pada para pekerja sektor informal di daerah, seperti wilayah Kalimantan Tengah yang menetapkan harga Pertamax menjadi Rp16.650 per liter.

Pengemudi ojek online mengeluhkan penurunan pendapatan bersih akibat pembengkakan biaya operasional harian.

Seorang pengemudi ojek online di Pangkalan Bun, Ikhsan, mengutarakan beratnya beban pengeluaran baru yang harus ditanggung tanpa adanya penyesuaian tarif layanan.

"Biasanya kami sehari mengisi Rp50 ribu Pertamax sudah full, sekarang bisa Rp65 ribu-Rp70 ribu. Otomatis uang bersih yang kita bawa ke rumah terpotong dari beli BBM saja," ujarnya.

Ia menambahkan bahwa bahan bakar merupakan komponen utama dalam mata pencahariannya sehari-hari. "Sementara biaya operasional terus meningkat, tarif masih tetap, pendapatan bersih otomatis tergerus," keluhnya.

Kondisi ini memaksa sebagian pengendara beralih menggunakan Pertalite guna menekan pengeluaran. Hal itu kemudian memicu penumpukan kendaraan di area jalur pengisian BBM bersubsidi.

>>> Panduan Sinkronisasi Data OSN-K SMP 2026 untuk Admin Sekolah

Pengemudi ojek online lainnya, Bagas, menyatakan peralihan ke Pertalite justru menyita waktu kerja mereka karena durasi antrean yang sangat lama.

"Naiknya sungguh luar biasa parah. Di Pangkalan Bun ini sekarang harus antre panjang kalau mau beli Pertalite.

Setiap hari kami biasanya isi Pertamax karena kendaraan lebih cocok menggunakan BBM itu," katanya.

Bagas menilai situasi ini menempatkan para pekerja transportasi online dalam posisi yang serba salah dan merugikan finansial.

"Kalau naik jadi Rp16.650 seperti sekarang, kami sudah sangat merugi kalau tetap bertahan beli Pertamax. Sementara tarif ojol belum naik.

Jadi pendapatan bersih kami otomatis berkurang. Kalau antre Pertalite kita habis di waktu.

Benar-benar apes," ungkapnya.

Berdasarkan data harga retail Pertamina, produk subsidi seperti Pertalite tetap dijual Rp10.000 per liter dan Biosolar Rp6.800 per liter.

>>> Lintasarta Luncurkan Intelligent Core untuk Integrasi Solusi Digital dan AI

Di wilayah Kalimantan Tengah, harga Pertamax Turbo dipatok Rp21.200 per liter, Dexlite Rp23.500 per liter, dan Pertamina Dex Rp25.350 per liter.

A
Tim Redaksi
Penulis: Anna Suleta
📰 Update Terbaru