PT Madusari Murni Indah Tbk (MOLI) atau Molindo mengalokasikan belanja modal sebesar Rp 350 miliar pada 2026. Dana tersebut digunakan untuk meningkatkan kapasitas produksi etanol dan liquid CO2.
Langkah investasi ini diambil perseroan sebagai strategi utama menangkap peluang pertumbuhan permintaan bioetanol di dalam negeri.
>>> Dewi Shri Farmindo Akuisisi Aset 1,5 Hektar di Cikarang untuk Ekspansi Pangan
Hal ini sejalan dengan rencana implementasi program mandatori campuran bioetanol 5% (E5) yang dijadwalkan mulai berjalan pada Juli 2026.
Pembangunan fasilitas distilasi baru, lini produksi liquid CO2, boiler, serta peralatan pendukung lainnya akan didanai melalui kombinasi kas internal dan pinjaman perbankan.
Melalui ekspansi ini, kapasitas produksi etanol berbasis molase ditargetkan melonjak dari 80 juta liter menjadi 100 juta liter per tahun.
Proyek ini akan beroperasi bertahap hingga September 2027.
“Capex sekitar Rp 350 miliar dengan sumber pendanaan dari perbankan dan kas internal,” ujar Jose dalam paparan publik, baru-baru ini.
Pihak manajemen juga mengarahkan investasi ini untuk meningkatkan efisiensi proses manufaktur sekaligus memperkuat pengembangan produk etanol dengan spesifikasi premium bernilai tambah tinggi.
>>> BI Evaluasi Potensi Kenaikan BI Rate untuk Stabilkan Rupiah
Direktur MOLI Jose G. Tan menjelaskan bahwa permintaan untuk segmen khusus ini masih berada dalam tren yang positif.
“Permintaan etanol tertentu seperti kosmetik dan farmasi masih kuat. Penjualan domestik juga cukup kuat,” katanya.
Sektor makanan, minuman, dan manufaktur juga menjadi sasaran perluasan bisnis liquid CO2 milik perseroan karena dinilai memiliki prospek yang menjanjikan.
Secara nasional, program mandatori bioetanol E5 diproyeksikan menjadi katalis baru, di mana campuran akan ditingkatkan menjadi E10 pada tahun 2028.
Molindo sendiri telah mendapatkan penunjukan resmi untuk menyuplai kebutuhan bioetanol di wilayah Jawa Timur kepada Pertamina.
Potensi kebutuhan fuel-grade ethanol secara nasional diperkirakan mampu mencapai 1,2 juta kiloliter pada tahun 2030.
“Program E5 menjadi salah satu peluang Molindo,” ujarnya.
>>> Krisis Kepercayaan Digital Ancam Pertumbuhan Ekonomi Nasional
Saat ini perseroan memiliki kapasitas terpasang fuel-grade ethanol sebesar 10 juta liter per tahun, dengan volume terserap industri baru mencapai 4 juta liter.
Manajemen tetap memasang target optimistis pada tahun 2026 meski bayang-bayang pelemahan harga etanol global dan konflik geopolitik Timur Tengah masih mengintai.
“Kami optimistis bisa mencapai kinerja seperti 2025, meskipun harus melihat berbagai faktor eksternal seperti El Nino maupun kenaikan harga bahan baku,” kata Jose.
Kinerja keuangan perseroan pada tahun 2025 tercatat membaik dengan raihan penjualan bersih Rp 1,49 triliun, atau tumbuh 7,6% dari tahun 2024 yang bernilai Rp 1,39 triliun.
Laba kotor perusahaan melonjak 40,5% menjadi Rp 435,81 miliar, sementara margin laba kotor merangkak naik ke posisi 29,1%.
Lonjakan signifikan terlihat pada laba bersih sebesar 424,5% menjadi Rp 93,11 miliar dengan margin laba bersih yang tumbuh menjadi 6,2%.
>>> Toyota Kijang Innova Reborn Diesel Juni 2026 Masih Ungguli Penjualan Zenix
Berkat pencapaian positif pada tahun buku 2025 tersebut, PT Madusari Murni Indah Tbk berencana membagikan dividen total sekitar Rp 20 miliar kepada para pemegang saham.
