Bagi sektor distributor, penyesuaian nilai kontrak baru diperkirakan naik sekitar 5% hingga 10%.
>>> Uji Kejelian Mata dengan 7 Tantangan Mencari Angka Tersembunyi
Pada klaster telekomunikasi, ketergantungan terhadap barang luar negeri dinilai jauh lebih masif.
Risiko kenaikan pengeluaran menyasar komponen utama seperti aksesoris kabel, Optical Line Terminal (OLT), serta Optical Distribution Cabinet (ODC).
Bahan baku impor yang mendominasi perangkat aktif dan pasif menyebabkan ongkos pembangunan jaringan baru naik antara 5% hingga 12%.
Besaran angka tersebut bergantung pada regulasi vendor asal serta metode pembayaran.
Meskipun biaya upah tenaga kerja konstruksi lapangan tidak terimbas kurs secara langsung, para kontraktor tetap melakukan penyesuaian tarif internal.
Hal ini dipicu naiknya harga suku cadang alat kerja penunjang yang juga berbasis impor.
"Hal ini berpotensi mendorong peningkatan biaya total proyek meski proporsinya lebih kecil dibanding kenaikan pada perangkat," ujar Jerry.
Untuk menghadapi tekanan pasar, APJATEL merumuskan beberapa strategi mitigasi bagi pelaku industri.
Langkah tersebut meliputi perencanaan stok jangka pendek, negosiasi ulang kontrak vendor, peningkatan komponen dalam negeri (TKDN), serta kemitraan dengan pemerintah.
>>> IHSG Melejit 2,34 Persen ke Level 5.881 pada Sesi I 10 Juni 2026
"Apjatel juga mendorong seluruh anggota untuk menjaga kualitas layanan dan memastikan pembangunan infrastruktur telekomunikasi tetap berjalan, karena konektivitas adalah kebutuhan dasar masyarakat dan fondasi ekonomi digital," kata Jerry.