Lembaga riset pasar TrendForce memperkirakan industri smartphone global akan menghadapi tekanan lebih besar pada kuartal kedua 2026.
Hal ini dipicu oleh habisnya persediaan memori murah yang selama ini menjadi penyangga biaya produksi.
>>> Purbaya Yudhi Sadewa: Kenaikan Harga Pertamax Minim Dampak Inflasi
Kenaikan harga DRAM dan NAND secara terus-menerus mulai menggerus margin keuntungan para produsen ponsel pintar. Demikian seperti dilansir dari Bloomberg Technoz.
"Seiring habisnya persediaan memori berbiaya rendah, produsen smartphone akan menghadapi tekanan biaya yang semakin besar," tulis TrendForce dalam laporannya.
Dampak lonjakan harga memori pada kuartal pertama 2026 masih relatif terbatas. Sebab, sebagian besar produsen masih mengandalkan stok lama.
Meski demikian, permintaan dari pasar negara berkembang terus menjadi sumber dukungan penting bagi industri ponsel pintar global.
Proyeksi Produksi 2026
Pada awal kuartal 2026, produksi smartphone global tercatat mencapai 284 juta unit. Angka ini turun 1,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
>>> Kurs Rupiah 10 Juni 2026 Melemah Tipis ke Level Rp 17.965 per Dolar AS
Secara keseluruhan, TrendForce memproyeksikan total produksi sepanjang tahun 2026 turun sekitar 16,2 persen. Volume produksi diperkirakan hanya 1,051 miliar unit.
Samsung tetap menjadi produsen terbesar pada kuartal pertama 2026 dengan produksi 62,6 juta unit. Pangsa pasarnya mencapai 22 persen secara global.
Jumlah tersebut naik 8 persen secara kuartalan dan tumbuh 2 persen secara tahunan. Kenaikan ini didorong persiapan peluncuran seri Galaxy S terbaru.
Apple menempati peringkat kedua dengan volume produksi 60,2 juta unit dan pangsa pasar 21 persen.
Meskipun turun 31 persen secara kuartalan karena faktor musiman, Apple mencatat pertumbuhan tahunan 20 persen berkat iPhone generasi terbaru dan peluncuran iPhone 17e.
>>> Saat Nikel Bullish, Smelter RI Tertekan Biaya Energi dan Harga Ore
Peringkat berikutnya ditempati OPPO dengan produksi 29,5 juta unit (10 persen), disusul Xiaomi sebanyak 26 juta unit (9 persen), dan vivo sebesar 22 juta unit (8 persen).
Ketiga merek asal China ini mengalami penurunan produksi kuartalan akibat faktor musiman dan kenaikan harga komponen.
Transsion berada di posisi keenam dengan produksi 19,8 juta unit dan pangsa pasar 7 persen.
Induk merek Tecno, Infinix, dan itel ini dinilai paling rentan karena fokus pada segmen entry-level yang bermargin tipis.
TrendForce menilai produsen dengan portofolio premium seperti Samsung dan Apple memiliki kemampuan lebih baik dalam menyerap kenaikan biaya komponen.
>>> Pertamina Resmi Naikkan Harga Pertamax dan Pertamax Green 95 per 10 Juni 2026
Sebaliknya, vendor asal China diperkirakan akan lebih berhati-hati dalam menetapkan target produksi tahun ini di tengah tekanan biaya.