⌂ Beranda News Biznet Tetap Ekspansi Jaringan Fiber Optik Meski Harga Perangkat Impor Naik

Biznet Tetap Ekspansi Jaringan Fiber Optik Meski Harga Perangkat Impor Naik

Biznet Tetap Ekspansi Jaringan Fiber Optik Meski Harga Perangkat Impor Naik
Jaringan fiber optik Biznet di Indonesia
A A Ukuran Teks16px

PT Supra Primatama Nusantara (Biznet) memastikan tetap agresif dalam penggelaran jaringan fiber optik di tengah fluktuasi ekonomi yang mendorong kenaikan harga bahan baku dan perangkat impor.

Senior Manager Marketing Biznet Adrianto Sulistyo mengatakan perusahaan telah mengamankan pasokan komponen jaringan terlebih dahulu. Langkah antisipatif ini membuat proses pembangunan infrastruktur telekomunikasi berjalan lancar sesuai target.

>>> Pertamina dan ITS Operasikan Kapal Pembersih Sampah Otomatis di Bali

Strategi ekspansi dilakukan berdasarkan analisis kebutuhan bisnis, permintaan pasar, dan penentuan target wilayah yang tepat. Manajemen fokus pada efektivitas pengembangan jaringan serta optimalisasi teknologi terkini.

"Tentunya kami melihat sesuai demand/kebutuhan kualitas Internet yang tinggi di tiap area," kata Adrianto.

Persiapan komponen di awal menjadi kunci utama Biznet mempertahankan kelancaran proyek dan mutu pelayanan konsumen.

Selain perluasan jangkauan geografis, perusahaan juga menambah kantor cabang baru untuk layanan pelanggan yang lebih responsif.

Skema harga layanan broadband belum berubah secara umum. Namun, Biznet menerapkan penyesuaian harga khusus untuk segmen residensial di sejumlah wilayah demi menjaga keterjangkauan.

"Bahkan di beberapa kota kedua dan ketiga, harga untuk layanan perumahan kami, Biznet Home, kami buat lebih terjangkau mengikuti daya beli di kota-kota tersebut," ujar Adrianto.

Adrianto menjamin kondisi ekonomi makro tidak menurunkan keandalan koneksi internet Biznet. Seluruh sistem operasional ditopang infrastruktur modern yang diklaim stabil dalam berbagai situasi.

Dampak Pelemahan Rupiah pada Industri Telekomunikasi

Ketua Umum Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) Muhammad Arif membenarkan adanya tren kenaikan harga fiber optik.

Depresiasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menjadi pemicu utama pembengkakan biaya alat akibat tingginya ketergantungan impor.

>>> Samsung Luncurkan Galaxy A57 5G dan A37 5G untuk Dukung Video Sinematik

"Dampaknya yang dikuatirkan, expansi di beberapa perusahaan pasti akan terganggu dan akan focus dengan coverage yang sudah ada sekarang," kata Arif.

Asosiasi Penyelenggara Jaringan Telekomunikasi (APJATEL) menyoroti lonjakan harga material pendukung seperti High-Density Polyethylene (HDPE) yang berfungsi sebagai pelindung kabel.

Komponen ini berpengaruh langsung pada kalkulasi total pengeluaran proyek.

Ketua Umum APJATEL Jerry Mangasas Swandy mengonfirmasi bahwa pelemahan mata uang lokal menjadi tantangan serius bagi ekosistem digital nasional.

Sebagian besar gawai dan perangkat telekomunikasi di dalam negeri masih didatangkan dari luar negeri.

Menurut Jerry, situasi kurs saat ini berpotensi mendongkrak harga jual laptop, server, hingga alat jaringan lainnya.

Kondisi pasar sempat membaik pasca-krisis pasokan chip global, namun kini kembali tertekan oleh biaya logistik pengadaan impor.

"Selama satu tahun terakhir harga memang sempat membaik setelah meredanya krisis chip global, namun pelemahan mata uang dapat menekan biaya impor," kata Jerry.

Beberapa komoditas yang rentan terdampak meliputi komputer personal, perangkat penyimpanan data, router, switch, firewall, serta modul memori.

A
Tim Redaksi
Penulis: Anna Suleta
📰 Update Terbaru