>>> Harga Pertamax Naik, Biaya Full Tank Toyota Veloz Tembus Rp698 Ribu
Pada hari sebelumnya, Selasa (9/6/2026), IHSG mencatatkan lonjakan besar hingga 7,57 persen ke level 5.746 pada penutupan perdagangan.
Sebanyak 678 saham bergerak menghidau, 87 saham berada di zona merah, dan 48 saham lainnya tidak mengalami perubahan.
BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS) mengungkapkan ada tiga faktor utama yang memicu lonjakan tajam IHSG tersebut.
Faktor pertama adalah langkah Bank Indonesia yang kembali menaikkan suku bunga sebesar 25 bps menjadi 5,50 persen demi menjaga stabilitas rupiah.
Kebijakan penyesuaian suku bunga ini mempertegas prioritas untuk memperkuat nilai tukar dan mengendalikan inflasi. Langkah tersebut sekaligus meningkatkan daya tarik aliran dana portofolio menuju pasar keuangan domestik.
Katalis kedua bersumber dari munculnya wacana aksi korporasi buyback saham Himbara. Pembahasan mengenai pembelian kembali saham bank-bank Himbara ini melibatkan DPR, Danantara, Himbara, BPJS, dan asuransi BUMN.
"Muncul pembahasan antara DPR, Danantara, Himbara, BPJS, dan asuransi BUMN soal buyback saham bank-bank Himbara.
Ini sinyal positif untuk pasar, menunjukkan upaya stabilisasi domestik yang terkoordinasi setelah tekanan jual asing," kata BRIDS pada Selasa (9/6/2026) sore.
Faktor penentu ketiga berkaitan dengan klarifikasi resmi dari pemerintah mengenai sektor ekspor. Pemerintah memastikan bahwa skema ekspor tidak akan menggunakan mekanisme gross split.
Penjelasan tersebut berhasil meredakan kekhawatiran pelaku pasar terkait kewajiban eksportir menyerahkan sebagian hasil ekspor kepada perantara negara. Dampaknya, risiko gangguan terhadap arus kas para eksportir kini berkurang.
>>> Rencana Pembentukan Bursa Mineral Perkuat Posisi Komoditas Strategis Indonesia
"Ketiga katalis ini bersama-sama memperkuat sentimen positif dan mendorong rebound saham di IHSG," pungkas BRIDS.