Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan kembali melemah dengan level support di area 5.238.
Proyeksi ini disampaikan oleh penyedia layanan trading dan riset pasar modal Astronacci International pada Rabu (10/6/2026).
>>> BI Wajibkan Perbankan Salurkan Kredit ke UMKM dan Sektor Pangan
Proyeksi penurunan didasarkan pada pembentukan pola ascending broadening wedge. Pola ini mengindikasikan indeks cenderung berakhir bearish dalam siklus jangka panjang sejak 2015 hingga paruh pertama 2026.
“Jika pola ini berjalan sesuai struktur yang terbentuk, maka target berikutnya berada di area 5.238, dengan skenario ekstrem yang dapat mencapai 5.030,” kata Gema Goeyardi, Pendiri sekaligus CEO Astronacci International.
Gema menambahkan bahwa tanggal 9 Juni atau 15 Juni 2026 menjadi momentum penting untuk mengidentifikasi titik balik jangka pendek.
“Kalau tanggal 9 rebound, tanggal 15 dia jebol lagi terus naik, tapi kita perhatikan area support-nya,” tuturnya.
Di sisi lain, IHSG justru terpantau berbalik menguat 3,26 persen ke level 5.933 pada perdagangan pagi Rabu (10/6/2026).
Indeks sempat menyentuh level tertinggi 5.939 dan level terendah 5.677.
Lonjakan indeks komposit ini ditopang oleh saham-saham berkapitalisasi besar seperti PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Barito Pacific Tbk (BRPT), dan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA).
>>> Samsung Siapkan Galaxy S27 Pro dengan Chipset Exynos 2700
Aktivitas pasar mencatat volume transaksi mencapai 14 miliar saham dengan nilai transaksi sekitar Rp9,91 triliun pada awal perdagangan.
Frekuensi tercatat sebanyak 987 ribu kali.
Meski menguat di pagi hari, IHSG telah melorot sebesar 32,28 persen secara year-to-date.
Hal ini dipicu aksi jual bersih investor asing yang mencapai Rp75,39 triliun sejak awal tahun di pasar reguler.
Tekanan jual investor asing terus berlanjut hingga penutupan perdagangan Selasa (9/6/2026) dengan melepas saham Indonesia senilai Rp2,59 triliun.
Padahal, IHSG sempat mencetak kenaikan terbesar sekitar 7,5 persen.
Di tengah tekanan jual, sejumlah pengelola dana global bersikap beragam.
Mereka tetap menambah muatan saham pada beberapa emiten berkapitalisasi jumbo berdasarkan data terminal Bloomberg per Rabu (10/6/2026).
>>> Jalan Kaki Pagi atau Sore? Sesuaikan dengan Target Kesehatan Anda
Blackrock tercatat menambah 7,25 juta saham BBCA sehingga kini menguasai 1,75 miliar saham atau 1,42 persen saham beredar.
Sementara JPMorgan Chase & Co justru mengurangi kepemilikannya sekitar 50,19 juta saham tetapi tetap memegang 1,08 miliar lembar atau 0,88 persen saham beredar BBCA.
Selain itu, Blackrock menambah muatan 121.304 lembar saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) menjadi 135,7 juta saham.
Dimensional Fund Advisors LP juga menambah 947.959 saham sehingga total menggenggam 27,55 juta saham BREN.
Sebaliknya pada saham PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), WisdomTree bersikap konservatif dengan hanya menambah 3.200 saham.
Sedangkan Credit Agricole Group menambah hingga 1,79 juta saham TPIA.
Sikap beragam juga terlihat pada saham BBRI.
>>> Pemerintah Siapkan Sembilan Kebijakan Fiskal Hadapi Ketidakpastian Global
Invesco Ltd menambah muatan sekitar 102,26 juta saham menjadi 2,24 miliar lembar, sementara JPMorgan Chase & Co mengurangi kepemilikan sekitar 206,13 juta saham.