⌂ Beranda News Saham BBRI Bertahan di Zona Hijau pada Sesi I Perdagangan

Saham BBRI Bertahan di Zona Hijau pada Sesi I Perdagangan

Saham BBRI Bertahan di Zona Hijau pada Sesi I Perdagangan
Grafik saham BBRI menguat
A A Ukuran Teks16px

Saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) berhasil mempertahankan posisinya di zona hijau pada sesi I perdagangan Rabu (10/6/2026).

Berdasarkan data Investor Daily, saham BBRI berada di level Rp2.850 atau mengalami kenaikan sebesar 2,15 persen sekitar pukul 11.13 WIB.

>>> Prabowo Setujui Perluasan Target Bedah Rumah 2027

Aktivitas perdagangan mencatat sebanyak 421,44 juta saham Bank Rakyat Indonesia telah ditransaksikan.

Proses tersebut berlangsung dengan frekuensi 64.786 kali dan menghasilkan nilai transaksi mencapai Rp1,22 triliun.

Aksi borong menjadi pijakan utama bagi penguatan saham BBRI.

Data dari aplikasi Stockbit Sekuritas menunjukkan bahwa saham BBRI membukukan net buy sebesar Rp83,7 miliar saat informasi ini dihimpun.

Pencapaian ini melanjutkan tren positif setelah saham emiten perbankan besar tersebut melonjak hingga 7,72 persen pada perdagangan Selasa (9/10/2026).

Pergerakan ini sekaligus mengakhiri tren penutupan di zona merah yang terjadi berturut-turut sejak 3 Juni hingga 8 Juni 2026.

Proyeksi dan Sentimen Pasar

CGS International Sekuritas memproyeksikan pergerakan saham BRI pada perdagangan Rabu (10/6/2026) memiliki resistance pertama di level 2.880.

Sementara itu, target resistance kedua berada pada posisi 2.970.

Pertumbuhan saham BBRI berjalan beriringan dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang melompat 2,16 persen sekitar pukul 11.17 WIB.

Kondisi pasar tersebut dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah menaikkan harga Pertamax sebesar 32 persen menjadi Rp16.250 per liter, serta penguatan rupiah terhadap dolar AS ke bawah level 18.000.

>>> Kriteria dan Daftar Mobil yang Aman Pakai Pertalite

Stockbit Sekuritas memberikan penilaian bahwa Pertamax secara regulasi berstatus sebagai BBM non-subsidi dan bukan BBM penugasan.

Walaupun harganya tetap dikontrol oleh pemerintah, komoditas ini tidak masuk dalam skema subsidi atau kompensasi APBN.

Secara regulasi, kenaikan harga Pertamax memang tidak berdampak langsung dalam mengurangi beban APBN untuk memperbaiki kondisi fiskal.

Namun, Sekretaris Perusahaan Pertamina, Roberth MV Dumatubun, pada Mei 2026 sempat memberikan penjelasan mengenai skema selisih harga.

Menurut Roberth MV Dumatubun, selisih antara harga keekonomian dengan harga jual Pertamax akan ditanggung oleh Pertamina terlebih dahulu.

Pemerintah kemudian bakal membayarkan kompensasi energi melalui besaran yang didiskusikan selanjutnya.

Pernyataan tersebut mengindikasikan bahwa kenaikan harga jual Pertamax berpotensi memangkas beban APBN. Pihak Stockbit Sekuritas pun memberikan catatan mengenai situasi regulasi ini.

"Kami menilai bahwa masih terdapat ketidakjelasan apakah kenaikan harga jual Pertamax memiliki hubungan langsung atau tidak terhadap APBN.

Namun, kami menilai bahwa kenaikan harga jual Pertamax ini tetap memberikan sinyal kedisiplinan terkait harga energi," sebut Stockbit.

Sentimen positif bagi IHSG berpotensi terus berlanjut berkat kondisi nilai tukar mata uang.

Stockbit menambahkan bahwa nilai tukar rupiah terhadap dolar AS kembali menguat ke level 17.900 pada Rabu (10/6) pagi.

A
Tim Redaksi
Penulis: Anna Suleta
📰 Update Terbaru