Rio Tinto telah mengirimkan 8 miliar ton bijih besi dari wilayah Pilbara, Australia, kepada mitra jangka panjangnya, Nippon Steel Corporation.
Pengiriman bersejarah ini bertepatan dengan 60 tahun operasi komersial dan perdagangan antara perusahaan tambang tersebut dengan Jepang.
>>> Tesla Hentikan Produksi Model S dan X, Fokus ke AI dan Robotika
Kargo tersebut berangkat dari Pelabuhan Cape Lambert menggunakan kapal Juno Horizon pada 19 Mei 2026.
Pengiriman bijih besi pertama dari Pilbara ke Jepang terjadi pada Agustus 1966, yang menjadi fondasi hubungan komersial yang masih berlangsung hingga kini.
Sebagai gambaran, 8 miliar ton bijih besi cukup untuk membangun lebih dari 161.000 Stadion Optus di Perth, atau 134.000 Menara Tokyo Skytree, atau lebih dari 46.000 Stadion Nasional Beijing.
Operasi di Pilbara telah mendorong pembangunan infrastruktur dan pertumbuhan ekonomi di enam kota regional: Dampier, Karratha, Pannawonica, Paraburdoo, Tom Price, dan Wickham.
>>> Saham Arcos Dorados Melonjak Usai Laba Q1 Lampaui Ekspektasi
Kegiatan pertambangan juga mendukung lima komunitas lain dari wilayah Kimberley hingga Great Southern melalui pengaturan kerja fly-in fly-out.
Proyek Masa Depan
Rio Tinto sedang melakukan evaluasi rinci di deposit Rhodes Ridge yang belum dikembangkan, di mana perusahaan memiliki 50% saham.
Situs ini diakui sebagai salah satu deposit bijih besi terbesar yang belum tergarap di dunia.
Proyek Rhodes Ridge diperkirakan dapat menjadi pusat pertambangan utama dengan kapasitas menghasilkan sekitar 100 juta ton per tahun (mtpa) bijih kadar tinggi.
Pengembangan ini membantu Rio Tinto mempertahankan target produksi jangka menengah, dengan output Pilbara diperkirakan antara 345 hingga 360 mtpa.
>>> Olivia Rodrigo Rilis Single Baru 'The Cure' Jelang Album Ketiga
Kepala eksekutif bijih besi Rio Tinto, Matthew Holcz, mengatakan pengiriman 8 miliar ton merupakan tonggak penting dan bukti dedikasi banyak orang yang membangun serta mempertahankan operasi, infrastruktur, dan komunitas selama 60 tahun terakhir.
Ia berterima kasih kepada pemerintah dan kelompok Pemilik Tradisional di Pilbara atas kemitraan dan bimbingan mereka.
Holcz menambahkan bahwa Jepang adalah pelanggan pertama Rio Tinto untuk ekspor bijih besi, dan kemitraan itu tetap menjadi pilar bisnis hingga kini.
Perusahaan akan terus berinvestasi di operasi Pilbara dan komunitas lokal.
>>> Kelly Osbourne Lawan Body Shaming Usai BRIT Awards 2026
Dalam pembaruan operasional terpisah pada Maret lalu, Rio Tinto mengungkapkan rencana memulai operasi tambang aktif di proyek Resolution Copper di Arizona, AS, pada pertengahan 2030-an.