>>> Bahlil Lahadalia: 20 Juta Ton Batu Bara PLN Belum Dikontrak
“Jangan sampai anak-anak kita terbang tinggi dengan teknologi, tapi kita sebagai orang tua tertinggal di bawah dan tidak tahu apa yang mereka akses,” ujarnya.
Lebih lanjut, Wapres menegaskan bahwa penerapan nilai etika dan integritas harus menjadi landasan utama untuk mencegah penyalahgunaan teknologi seperti hoaks, plagiarisme, dan pelanggaran privasi.
“Teknologi tanpa etika itu berbahaya,” katanya.
“Saya ingin mengingatkan, pemanfaatan AI harus didasari oleh nilai-nilai integritas,” tegas Gibran.
Masyarakat diminta menghindari penggunaan AI untuk tujuan destruktif.
“Jangan gunakan AI untuk menipu, jangan gunakan AI untuk menjatuhkan orang lain. AI harus digunakan untuk kesejahteraan bersama, untuk mempermudah hidup, bukan untuk menciptakan kekacauan sosial,” ujarnya.
Pemerintah telah merampungkan Readiness Assessment Methodology (RAM) AI dari UNESCO sebagai instrumen resmi untuk mendiagnosis kesiapan tata kelola AI nasional.
“Pemerintah Indonesia telah berhasil menyelesaikan Readiness Assessment Methodology untuk AI yang disusun UNESCO, yang berfungsi sebagai alat diagnose untuk menilai kesiapan dan tata kelola AI Indonesia di masa datang sesuai pedoman etika,” kata Gibran.
Penyelesaian instrumen tersebut diarahkan untuk mematangkan ekosistem pengembangan AI yang didukung kapasitas SDM Indonesia.
“Kita punya potensi besar, Indonesia punya talenta-talenta hebat, tugas pemerintah adalah menyiapkan ekosistemnya, dan tugas kita semua adalah mempersiapkan kapasitas diri kita masing-masing.
>>> Hong Yoo Kyung Umumkan Kehamilan Anak Pertama, Usia Kandungan 16 Minggu
Kuasai teknologinya, pegang teguh etikanya, mari kita jadikan AI sebagai jembatan menuju Indonesia yang lebih maju, lebih cerdas, dan lebih bermartabat,” pungkas Gibran.