Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka mengajak pelajar, guru, dan orang tua untuk menguasai kecerdasan buatan (AI) demi menyongsong Indonesia Emas 2045.
Hal itu disampaikan Gibran dalam sebuah tayangan video resmi yang dikutip Rabu (17/6/2026).
>>> Merdeka Gold Resources Ajukan Proposal HDR di Bursa Hong Kong
Menurut Gibran, transformasi digital telah mengubah fokus literasi dari baca tulis menjadi penguasaan literasi digital yang krusial.
AI Bukan Lagi Masa Depan
“AI bukan lagi masa depan, AI adalah hari ini. Kita tidak bisa lagi menutup mata atau sekadar menjadi penonton.
Kita harus menjadi pemain, kita harus menjadi penguasa teknologi tersebut,” ujar Gibran.
Wapres menambahkan bahwa AI merupakan instrumen strategis yang dapat dimanfaatkan siswa untuk mempercepat proses belajar di berbagai disiplin ilmu.
“Kepada adik-adik pelajar, saya ingin kalian memahami bahwa AI adalah alat untuk mempercepat, bukan alat untuk membuat kalian malas,” kata Gibran.
Teknologi AI dapat berfungsi sebagai asisten pribadi untuk mempermudah pencarian data, penguasaan bahasa asing, hingga penyederhanaan materi pelajaran yang rumit.
“AI bisa membantu mengejar ketertinggalan kita, namun penguasaan teknologi ini tidak boleh membuat kita kehilangan daya kritis,” ujar Gibran.
Generasi muda diimbau tetap mempertahankan kemandirian berpikir dan menjadikan teknologi sebagai pemantik inovasi.
“Gunakan AI untuk memicu kreativitas, bukan untuk menggantikan kemampuan berpikir kalian sendiri,” tegas Gibran.
Peluang dari AI Open Source
Gibran menyoroti perluasan akses terhadap platform AI berbasis open source sebagai peluang besar bagi talenta lokal.
>>> Rupiah Melemah ke Rp 17.748 Akibat Antisipasi Suku Bunga The Fed
“Kabar baiknya, banyak sekali teknologi AI canggih yang sekarang sifatnya open source. Ilmu gratis, kodenya terbuka, bisa diakses siapa saja,” kata Gibran.
Optimalisasi teknologi terbuka ini dinilai mampu mengubah target pembangunan nasional menjadi kepastian.
“Ini kesempatan emas bagi talenta berbakat Indonesia. Di tangan yang menguasai teknologi, Indonesia Emas 2045 bukan lagi sekadar impian, tetapi sebuah kepastian,” ujarnya.
Gibran juga mengimbau para tenaga pendidik untuk terus beradaptasi dan mengurangi kekhawatiran terhadap disrupsi teknologi di ruang kelas.
“Saya harap para guru tidak pernah menyerah untuk meningkatkan kemampuan diri,” kata Gibran.
Pemanfaatan AI oleh guru diproyeksikan mampu mereduksi beban kerja administratif, seperti penyusunan soal ujian dan penyederhanaan materi ajar.
“Guru yang menguasai AI akan memiliki kekuatan super untuk mendidik dengan lebih efektif,” ujar Gibran.
Efisiensi administratif diharapkan memberi ruang lebih besar bagi guru untuk fokus pada aspek humanis pengajaran.
“Sehingga Bapak-Ibu punya lebih banyak waktu untuk menyentuh sisi humanis dan karakter murid-murid kita,” katanya.
Gibran juga menekankan pentingnya pendampingan orang tua agar pengawasan terhadap akses digital anak tetap berjalan.