⌂ Beranda News IHSG Melonjak 1,07% ke 6.321,96 pada Pembukaan Perdagangan

IHSG Melonjak 1,07% ke 6.321,96 pada Pembukaan Perdagangan

IHSG Melonjak 1,07% ke 6.321,96 pada Pembukaan Perdagangan
Grafik IHSG melonjak pada pembukaan perdagangan
A A Ukuran Teks16px

Nafan mengindikasikan bahwa pulihnya optimisme dan berkurangnya sikap risk-off investor global mulai terdeteksi melalui aktivitas pembelian saham di lantai bursa.

Kelanjutan aliran modal asing masuk secara berkelanjutan akan semakin terbuka jika deeskalasi geopolitik dibarengi stabilitas nilai tukar rupiah dan ekonomi domestik yang terus terjaga.

"Itu sebenarnya sudah mencerminkan bahwasannya sudah mulai kembalinya optimisme dan juga berkurangnya sikap risk-off investor global.

Terus juga apabila stabilitas nilai tukar rupiah dan ekonomi domestik masih terus terjaga di tengah deeskalasi geopolitik, maka potensial aliran asing masuk atau foreign inflow secara berkelanjutan akan semakin terbuka lebar," pungkas Nafan.

Lebih lanjut, ia menerangkan fokus penilaian lembaga internasional terhadap pasar modal Indonesia yang menitikberatkan aspek keterbukaan data kepemilikan dan tata kelola perdagangan yang sehat.

Regulasi transparan sangat krusial untuk mencegah terjadinya distorsi dalam mekanisme pembentukan harga saham di bursa.

"MSCI itu sebenarnya memberikan perhatian sangat intensif pada integritas pasar dan transparansi kepemilikan saham. Poin-poin ini mencakup transparansi struktur kepemilikan, praktik perdagangan, dan free float.

Jadi concern utama MSCI terhadap market Indonesia adalah seperti itu," ujar Nafan.

Meskipun otoritas bursa dalam negeri terus melakukan pembenahan regulasi, peluang peningkatan status penilaian dalam waktu dekat diprediksi berjalan lambat.

Lembaga pemeringkat global masih menerapkan pendekatan tunggu dan lihat.

"Lalu, bagaimana agar peluang dalam hal peningkatan penilaian bisa terjadi pada review pada 18 Juni ini?

Peluang untuk melakukan penilaian yang signifikannya masih terbatas karena MSCI saat ini masih menerapkan pendekatan wait and see," paparnya.

Ia mengapresiasi respons cepat dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama regulator bursa dalam memperketat pengawasan transaksi di lapangan.

>>> Luca Zidane Debut di Piala Dunia 2026 Bersama Aljazair

Beberapa langkah konkret meliputi kewajiban pelaporan kepemilikan saham skala kecil hingga komitmen peningkatan syarat minimum free float hingga 15 persen.

"MSCI telah menggelar dan mengapresiasi respons cepat dari OJK dan SRO dalam melaksanakan langkah-langkah perbaikan.

Langkah-langkah tersebut meliputi kewajiban pengungkapan pemegang saham yang di atas 1 persen, klasifikasi investor lebih detail, kerangka High Shareholding Concentration List, dan free float karena ada komitmen untuk meningkatkan syarat minimum free float hingga 15 persen," tukas Nafan.

Penilaian aksesibilitas pasar dari lembaga global dipandang memiliki korelasi yang sangat kuat terhadap pergerakan arah dana investasi di dalam negeri.

Besarnya nilai dana investasi dari institusi internasional menjadikannya pedoman portofolio.

Analis Faris memberikan estimasi dana kelolaan dari passive fund yang merujuk pada indeks tersebut.

"Jika kita lihat dari sisi dana kelolaan, MSCI menjadi yang signifikan dengan estimasi AUM 250 juta dollar AS hanya dari passive fund," ujar Faris.

Sebaliknya, pengaruh dari pemeringkatan lembaga indeks dunia lainnya seperti FTSE dinilai tidak akan membawa dampak yang terlalu masif terhadap volatilitas pergerakan dana di pasar modal Indonesia.

FTSE jarang digunakan sebagai rujukan utama.

"Untuk FTSE tidak terlalu banyak institusi dengan eksposur Indonesia yang menggunakan benchmark indexnya, sehingga dari segi flow tidak signifikan," ucap Faris.

Sementara itu, Direktur Infovesta Utama Wawan Hendrayana menyebutkan bahwa indeks saham Garuda telah berada di bawah nilai wajar atau oversold ketika sempat merosot hingga menembus kisaran angka 5.400 beberapa waktu lalu.

"IHSG sendiri memang sudah oversold disaat menyentuh 5.400 an dan saat ini sedang dalam fase rebound," ungkap Wawan.

Meski pasar bergerak positif, ia mengingatkan adanya risiko pembalikan arah akibat aksi ambil untung massal oleh para pemodal.

Risiko ini dapat muncul jika ada sentimen negatif dari gejolak eksternal maupun kebijakan moneter global.

"Tentu saja dengan kenaikan yang signifikan dalam 1 minggu, sangat mungkin akan terjadi profit taking bila katalis negatif datang," pungkas Wawan.

Dari pasar valuta asing, nilai tukar rupiah terhadap dollar AS terpantau melemah tipis berdasarkan data Bloomberg.

>>> Norwegia Tekuk Irak 4-1, Pimpin Klasemen Grup I Piala Dunia 2026

Mata uang domestik turun 7 poin atau 0,04 persen ke level Rp17.732 per dollar AS pada perdagangan hari ini.

H
Tim Redaksi
Penulis: Hana
📰 Update Terbaru