⌂ Beranda News Ahli Medis Peringatkan Risiko Kerusakan Ginjal Akibat Tren Protein Maxxing

Ahli Medis Peringatkan Risiko Kerusakan Ginjal Akibat Tren Protein Maxxing

Ahli Medis Peringatkan Risiko Kerusakan Ginjal Akibat Tren Protein Maxxing
Ilustrasi risiko kerusakan ginjal akibat konsumsi protein berlebihan
A A Ukuran Teks16px

Tren diet ekstrem yang disebut protein maxxing kembali viral di media sosial. Praktik ini mendorong konsumsi protein dalam jumlah sangat tinggi secara konsisten untuk mencapai bentuk fisik tertentu.

Para ahli medis memberikan peringatan keras terhadap fenomena ini.

>>> Kementerian ESDM Siapkan Rp815 Miliar untuk Kompor Listrik pada 2027

Colorado State University College of Health and Human Sciences menyatakan pendekatan ekstrem tersebut tidak diperlukan oleh orang awam.

Konsumsi protein yang berlebihan secara terus-menerus justru membawa dampak buruk bagi kesehatan. Kebiasaan ini berisiko memicu kerusakan organ permanen, terutama pada organ ginjal.

Mengapa Protein Maxxing Berbahaya?

Gagasan utama di balik tren ini didasarkan pada anggapan bahwa mengonsumsi nutrisi baik sebanyak mungkin akan memberikan hasil yang lebih baik.

Influencer di TikTok dan Instagram kerap mempromosikan aturan 1 gram protein per pon berat badan.

>>> Kemenkes Bagikan Cara Meredakan Batuk dengan Lima Bahan Tradisional

Promosi tersebut menjanjikan pertumbuhan otot signifikan, performa atletik puncak, serta penurunan lemak tanpa usaha keras. Namun, biologi tubuh manusia tidak bekerja secara instan seperti itu.

Mengonsumsi satu jenis nutrisi secara berlebihan tidak serta-merta mengubah kondisi fisik secara otomatis.

Pelaku tren ini sering kali memangkas habis karbohidrat dan menggantinya dengan protein hewani berat atau produk olahan.

Kondisi ini dimanfaatkan oleh pemasar makanan dengan menempelkan label tinggi protein pada berbagai produk. Hal tersebut menciptakan efek halo kesehatan yang mengecoh konsumen sehari-hari.

Analis Kebijakan Kesehatan, Anne Kamwila, menjelaskan bahwa secara metabolisme tubuh tidak dapat membangun otot hanya dengan menambah asupan protein secara asal.

>>> Kemendikdasmen Minta Orang Tua Pahami Jalur SPMB 2026

Nutrisi ini memang krusial untuk perbaikan jaringan, hormon, dan sistem imun, namun kapasitas penyerapannya memiliki batas maksimal.

Berdasarkan data Mayo Clinic, kebutuhan protein untuk orang dewasa yang tidak aktif bergerak adalah sekitar 0,8 gram per kilogram berat badan.

Sementara itu, Stanford Medicine menyarankan takaran 1,2 hingga 1,6 gram per kilogram berat badan untuk individu yang aktif.

Jika konsumsi protein jauh melampaui angka anjuran tersebut, tubuh tidak akan memprosesnya menjadi otot. Sisa protein yang berlebih justru akan dibakar menjadi energi atau disimpan sebagai jaringan lemak.

>>> Mitsubishi Motors Bagikan 5 Cara Cegah Hewan Masuk Ruang Mesin Mobil

Pembentukan otot yang ideal tidak bisa dicapai hanya dengan memperbanyak konsumsi daging. Proses tersebut tetap membutuhkan latihan beban yang konsisten serta pemenuhan asupan kalori yang seimbang.

A
Tim Redaksi
Penulis: Anna Suleta
📰 Update Terbaru