Perusahaan induk Yum Brands resmi menjual seluruh jaringan restoran Pizza Hut senilai 2,7 miliar dolar AS atau sekitar Rp44 triliun pada Selasa, 16 Juni 2026.
Penjualan ini dilakukan karena penurunan penjualan yang terus berlanjut di tengah ketatnya persaingan pasar.
>>> Kementerian ESDM Siapkan Rp815 Miliar untuk Kompor Listrik pada 2027
Dua Investor Baru
Pelepasan ini membagi kepemilikan Pizza Hut menjadi dua wilayah operasional utama di bawah investor baru.
Perusahaan ekuitas swasta asal Amerika Serikat, LongRange Capital, mengambil alih bisnis Pizza Hut global di luar China daratan dengan nilai kesepakatan mencapai 1,5 miliar dolar AS.
Sementara itu, operasional Pizza Hut di wilayah China daratan dibeli oleh Yum China Holdings Inc. senilai 1,2 miliar dolar AS, yang mencakup 19 persen dari total penjualan global merek tersebut.
Langkah divestasi ini diambil setelah Pizza Hut mencatat penurunan penjualan global sebesar 2 persen pada tahun lalu.
Penjualan domestiknya di Amerika Serikat merosot tajam hingga 8,2 persen menurut data Technomic.
Yum Brands, yang juga membawahi KFC dan Taco Bell, sebelumnya telah mengumumkan rencana penutupan 250 gerai Pizza Hut di Amerika Serikat pada Februari lalu sebagai bagian dari efisiensi.
CEO Yum Brands Chris Turner menjelaskan bahwa langkah ini merupakan strategi krusial untuk mengoptimalkan potensi pertumbuhan jangka panjang perusahaan.
>>> Kemenkes Bagikan Cara Meredakan Batuk dengan Lima Bahan Tradisional
"Under LongRange and Yum China, Pizza Hut will be well positioned for future growth with ownership that brings deep expertise in the restaurant industry," ujar Chris Turner.
Pelepasan unit bisnis ini membuat Yum Brands kini dapat mengalihkan fokus sumber daya sepenuhnya untuk mengembangkan rantai restoran lain yang memiliki performa jauh lebih kuat.
"This positions Pizza Hut for even greater growth going forward, and for Yum, it allows us to focus even more on those three brands," kata Chris Turner.
Dua merek utama yang menjadi prioritas pertumbuhan ekspansi global saat ini adalah Taco Bell yang mencetak pertumbuhan penjualan sebesar 18 persen, serta KFC yang telah memiliki 34.000 gerai di seluruh dunia.
"Of course, the two biggest there are Taco Bell and KFC. They have incredible white space opportunities in front of them," tutur Chris Turner.
Pihak manajemen optimistis penajaman fokus operasional ini akan memberikan dampak signifikan pada ekosistem teknologi dan akselerasi ekonomi seluruh jaringan restoran yang tersisa.
"We're talking about raising the bar, battling for the future consumer, accelerating restaurant economics, and reaching the full potential of bite in our technology ecosystem," ucap Chris Turner.
Taco Bell dinilai memiliki ruang pertumbuhan internasional yang sangat masif karena saat ini baru mengoperasikan sekitar 1.200 restoran di luar pasar Amerika Serikat.