Chile mengelola ekspor tembaga melalui Codelco, BUMN yang menjadi tulang punggung devisa negara.
Korea Selatan, pada era industrialisasi, pemerintah mengendalikan ekspor baja dan elektronik untuk memastikan arus devisa masuk dan mendukung pembangunan industri nasional.
>>> Trump Umumkan Damai dengan Iran dan Gelar UFC di Gedung Putih
Ketiga negara ini menunjukkan bahwa kontrol ekspor melalui BUMN bukanlah distorsi, melainkan strategi industrialisasi.
Kritik Moody's dan S&P yang menilai kebijakan Indonesia sebagai ancaman jelas tidak konsisten dengan pengalaman global.
Diplomasi Kritik terhadap Lembaga Rating
Indonesia tidak perlu menolak lembaga rating secara frontal. Sebaliknya, kritik harus disampaikan dengan diplomasi.
Tegaskan konteks bahwa kebijakan ini lahir dari kebutuhan menutup underinvoicing dan memperkuat industrialisasi.
Tunjukkan data mismatch UN Comtrade, potensi devisa yang hilang, dan proyeksi penerimaan negara setelah reformasi. Bangun narasi positif bahwa kebijakan ini bukan monopoli, melainkan transparansi.
BUMN bertindak sebagai gatekeeper untuk komoditas strategis, sementara swasta tetap diberi ruang dengan mekanisme harga referensi resmi.
Dorong dialog dengan melibatkan lembaga rating dalam forum kebijakan agar mereka memahami konteks lokal.
Rekomendasi Kebijakan
- Digitalisasi invoice ekspor: integrasi data ekspor dengan perbankan dan bea cukai, serta audit silang dengan data mitra dagang.
- Transparansi tata kelola BUMN: publikasi laporan ekspor secara berkala untuk menjaga kepercayaan investor.
- Pengendalian rupiah: jaga depresiasi terkendali untuk mendorong ekspor, sambil menjaga inflasi melalui subsidi energi dan pangan.
- Narasi pro-investasi: pastikan investor memahami bahwa kebijakan ini meningkatkan kepastian kontrak dan stabilitas makro.
- Diplomasi dengan lembaga rating: kritik mereka harus dijawab dengan data dan konteks, bukan dengan defensif, agar kredibilitas Indonesia justru meningkat.
Kebijakan BUMN Ekspor adalah structural reform yang memperkuat kredibilitas fiskal dan moneter Indonesia. Ia menutup celah underinvoicing, mendorong industrialisasi, dan menjadikan pelemahan rupiah sebagai instrumen produktif.
Kritik Moody's dan S&P yang tidak mempertimbangkan konteks ini harus dikritisi secara diplomatis, dengan data dan narasi yang kuat.
Indonesia tidak boleh terjebak dalam logika pasar semata.
Reformasi ini adalah langkah berani untuk memastikan bahwa devisa tidak lagi bocor, industri dalam negeri tumbuh, dan rupiah menjadi lebih tangguh.
>>> Saham SpaceX Melonjak 7,7% di Perdagangan Prapasar, Kapitalisasi Tembus US$2 Triliun
Dengan tata kelola yang transparan, kebijakan ini akan memperkuat kredibilitas Indonesia di mata dunia, bukan melemahkannya.