Sementara itu, Direktur Teknologi Informasi BNI Toto Prasetio menekankan bahwa transformasi AI juga menuntut perubahan budaya kerja dan kesiapan sumber daya manusia.
"Transformasi tidak pernah hanya soal teknologi. Perubahan budaya kerja dan kesiapan manusia tetap menjadi faktor yang menentukan keberhasilan implementasi," ujarnya.
Di tingkat nasional, pemerintah juga mulai mempercepat pembangunan ekosistem AI.
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria mengatakan Indonesia perlu membangun kemampuan nasional agar tidak hanya menjadi pengguna teknologi AI global.
Pemerintah saat ini mendorong pengembangan ekosistem melalui kerangka 5A yang mencakup availability, affordability, awareness, ability, dan agency guna memperluas pemanfaatan AI di berbagai sektor.
Pada saat yang sama, Managing Director Strategic Technology Initiatives Danantara Ricardo Irwan Rei menilai Indonesia perlu mulai memikirkan pengembangan model AI sendiri sebagaimana dilakukan China melalui DeepSeek dan Qwen.
Menurut dia, tujuan jangka panjang pengembangan AI nasional tidak hanya meningkatkan produktivitas, tetapi juga memperkuat kedaulatan teknologi Indonesia.
>>> Jadwal KRL Solo Jogja 14 Juni 2026: Beroperasi Normal dari Pagi hingga Malam
Di tengah percepatan adopsi AI tersebut, pelaku industri menilai tantangan terbesar perusahaan ke depan bukan lagi membangun teknologi AI, melainkan menyiapkan organisasi agar mampu bekerja berdampingan dengan AI secara efektif dan berkelanjutan.