⌂ Beranda News Aktivitas IPO di Pasar Modal Indonesia Lesu akibat Tekanan Pasar Saham
News

Aktivitas IPO di Pasar Modal Indonesia Lesu akibat Tekanan Pasar Saham

Ilustrasi IPO di pasar modal Indonesia
Ilustrasi IPO di pasar modal Indonesia
A A Ukuran Teks16px

Aktivitas penawaran umum perdana saham (IPO) di pasar modal Indonesia masih lesu.

Hingga pertengahan tahun ini, baru satu perusahaan yang tercatat melantai di Bursa Efek Indonesia, yaitu PT Niramas Utama Tbk (JELI) pada 7 Juli 2026.

Minimnya aksi korporasi ini mencerminkan tantangan berat yang dihadapi industri pasar keuangan domestik.

Analis Pasar Modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, menilai situasi saat ini bertolak belakang dengan pencapaian beberapa tahun lalu.

"Banyak perusahaan menunda rencana melantai di bursa karena momentum pasar belum ideal untuk memperoleh valuasi optimal," ujarnya, Minggu (14/6/2026).

Penyebab Sepinya IPO

Hendra Wardana membeberkan tiga alasan utama sepinya peluncuran saham baru. Pertama, koreksi mendalam Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sejak awal tahun menggerus valuasi mayoritas emiten.

"Perusahaan tidak ingin melepas saham pada harga yang terlalu murah. Menunda IPO menjadi pilihan lebih rasional," jelasnya.

Kedua, investor kini lebih waspada dalam mengalokasikan modal untuk mempertahankan likuiditas dan meminimalkan risiko.

Ketiga, kondisi ekonomi makro domestik melambat, daya beli melemah, konsumsi menurun, dan suku bunga tinggi membuat pelaku usaha menahan ekspansi.

"Investor mempertanyakan prospek pertumbuhan laba perusahaan. Ketika ekspektasi ekonomi menurun, minat terhadap saham baru berkurang," tambah Hendra.

Kebangkitan pasar perdana bergantung pada pemulihan kepercayaan investor, stabilitas IHSG, perbaikan ekonomi, dan kembalinya aliran modal asing. Jika faktor-faktor itu membaik, perusahaan yang menunda IPO berpotensi kembali aktif.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, mengamati perubahan preferensi investasi yang lebih konservatif. "Fokus investor tertuju pada emiten established dengan profitabilitas jelas dan dividen menarik.

Perusahaan baru IPO yang masih growth tinggi kurang diminati," ujarnya.

📰 Update Terbaru