⌂ Beranda News Kementerian ESDM Proyeksikan Harga BBM Nonsubsidi Bakal Turun

Kementerian ESDM Proyeksikan Harga BBM Nonsubsidi Bakal Turun

Kementerian ESDM Proyeksikan Harga BBM Nonsubsidi Bakal Turun
Ilustrasi harga BBM nonsubsidi turun
A A Ukuran Teks16px

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memproyeksikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi, termasuk Pertamax, berpeluang turun.

Hal ini menyusul anjloknya harga minyak mentah dunia setelah pengumuman perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran pada Juni 2026.

>>> Ekonom Sebut Kenaikan BI Rate Miliki Manfaat dan Risiko Seimbang

Penurunan harga minyak dunia dipicu oleh pembukaan Selat Hormuz dan kembalinya Iran ke pasar global.

Harga Brent turun ke US$ 78,96 per barel dan WTI ke US$ 76,05 per barel, dilansir dari Reuters.

Kebijakan penyesuaian harga BBM nonsubsidi mengikuti regulasi keekonomian pasar pasokan global.

Juru Bicara Kementerian ESDM Dwi Anggia menyatakan bahwa fluktuasi harga sangat memengaruhi ketahanan pasokan energi di dalam negeri.

"Apakah harganya bisa turun? Pasti.

Ketika harga minyak dunia turun sudah dipastikan harga BBM non subsidi akan turun.

Begitu juga sebaliknya ketika harga minyak dunia naik, mau tidak mau tidak terhindarkan dia akan sesuaikan harga keekonomiannya," beber Anggia di Gedung Bakom, Jakarta Selatan, Rabu (17/6/2026).

Penyesuaian Harga Mengikuti Dinamika Global

Pemerintah sebelumnya sempat menahan laju kenaikan harga energi komersial demi menjaga tingkat belanja masyarakat.

>>> IHSG Dibuka Melemah 0,99 Persen ke Level 6.159 pada 18 Juni 2026

"Kita tahu April kemarin sesuai arahan Presiden pemerintah masih mencoba harga kestabilan ekonomi dan menjaga daya beli masyarakat," ujar Anggia.

Namun, seiring berjalannya waktu, fluktuasi harga yang makin dinamis membuat pelaku usaha menyesuaikan harga keekonomiannya. Anggia menegaskan bahwa pergeseran harga komoditas global secara otomatis mengubah harga ritel domestik.

Dwi menguraikan bahwa penyesuaian tarif BBM di negara-negara tetangga kawasan sudah lebih dulu terjadi.

"Kalau kita bicara negara-negara kawasan di tetangga sudah jauh lebih dulu mengalami kenaikan, penyesuaian," tuturnya.

Presiden Prabowo Subianto awalnya menginstruksikan pertahanan harga sebelum akhirnya disesuaikan ke angka Rp 16.250.

"Tapi seiring berjalannya waktu, fluktuasi harga yang semakin dinamis, ini para pelaku usaha mau tidak mau harus menyesuaikan dengan harga keekonomian," imbuh Dwi.

Jaminan untuk Kelompok Rentan

Di tengah dinamika harga minyak komersial, pemerintah memberikan jaminan bagi kelompok ekonomi rentan.

"Inilah kebijakan Presiden untuk menjaga BBM subsidi tidak naik harganya, sesulit apapun kondisi geopolitik di luar sana, ini yang tetap dijaga," ucap Dwi.

>>> Pengelola Batasi Akses Masuk Kawasan GBK Menjelang Eksekusi Hotel Sultan

Landasan hukum penentuan harga jual eceran bahan bakar non-kompensasi tertuang dalam Keputusan Menteri ESDM Nomor 245. K/MG/01/MEM.

M/2022.

Anggota Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Firman Hidayat memproyeksikan penurunan secara bertahap jika crude oil berada di bawah level tertentu.

"Itu harusnya kayak harga solar yang untuk nonsubsidi, Pertamax, itu pelan-pelan bisa turun.

Apalagi kalau crude-nya bisa di bawah US$ 80 gitu kan, otomatis pasti akan ada penyesuaian lagi," ungkap Firman.

Firman menganalisis bahwa kondisi pasokan global sebenarnya surplus sebelum hambatan distribusi akibat konflik terselesaikan.

"Sebenarnya sebelum perang kondisi supply minyak di dunia itu sebenarnya sangat banyak, 3,8 juta barrel per day surplusnya sebelum perang gitu kan," terangnya.

Saat ini, harga Pertamax tercatat di posisi Rp16.250 per liter dan Pertamax Green 95 sebesar Rp17.000 per liter.

>>> VinFast Pangkas Harga VF 9 hingga 170 Juta Dong dan Ekspansi ke India

Sementara itu, jenis subsidi seperti Pertalite tetap di harga Rp10.000 per liter dan Biosolar Rp6.800 per liter.

A
Tim Redaksi
Penulis: Anna Suleta
📰 Update Terbaru