⌂ Beranda News Ekonom Sebut Kenaikan BI Rate Miliki Manfaat dan Risiko Seimbang

Ekonom Sebut Kenaikan BI Rate Miliki Manfaat dan Risiko Seimbang

Ekonom Sebut Kenaikan BI Rate Miliki Manfaat dan Risiko Seimbang
Grafik nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang menurun
A A Ukuran Teks16px

Ekonom berpandangan bahwa level suku bunga acuan atau BI Rate yang tinggi oleh Bank Indonesia (BI) memiliki manfaat dan risiko yang perlu dilihat secara seimbang.

Bank sentral telah menaikkan BI Rate secara kumulatif sebesar 75 basis poin (bps).

>>> Prodia Diagnostic Line Alokasikan Dividen 20 Persen Usai IPO

Kenaikan tersebut masing-masing pada RDG Mei 2026 sebesar 50 bps dan RDG Mingguan 9 Juni 2026 sebesar 25 bps.

Manfaat Kenaikan BI Rate

Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengungkapkan manfaat utama kenaikan BI Rate adalah menjaga stabilitas rupiah.

Ketika rupiah melemah terlalu cepat, BI perlu memberi sinyal tegas bahwa stabilitas nilai tukar menjadi prioritas.

Suku bunga yang lebih tinggi membuat aset rupiah lebih menarik.

Hal itu membantu menahan arus keluar dana asing dan memberi insentif bagi investor untuk kembali masuk ke instrumen rupiah seperti SBN dan SRBI.

“Dalam kondisi rupiah sempat mendekati atau menembus level psikologis penting, respons cepat BI dapat mencegah tekanan pasar berkembang menjadi kepanikan yang lebih luas,” kata Josua ketika dihubungi, Kamis (18/6/2026).

Keuntungan kedua adalah menahan risiko inflasi. Rupiah yang lemah membuat harga barang impor naik, terutama energi, pangan, bahan baku industri, dan barang modal.

Jika tidak dikendalikan, pelemahan rupiah dapat masuk ke harga konsumen dan menekan daya beli masyarakat. Dengan menaikkan suku bunga, BI berupaya menahan ekspektasi inflasi.

“Jadi, kenaikan BI Rate bukan hanya soal kurs, tetapi juga soal menjaga daya beli,” ujar dia.

Keuntungan ketiga yakni menjaga kepercayaan investor.

Dalam situasi pasar yang sensitif terhadap isu fiskal, arus modal, dan stabilitas kebijakan, kenaikan BI Rate menunjukkan bahwa otoritas moneter tidak pasif.

Menurutnya, hal ini penting karena pasar sering menilai kredibilitas dari kecepatan dan ketegasan respons. Jika BI terlambat, investor bisa menilai risiko Indonesia meningkat.

“Dengan langkah yang tegas, BI membeli waktu agar pemerintah dapat memperbaiki sisi fiskal, regulasi, dan kepercayaan pasar,” jelas Josua.

>>> Ramalan Zodiak Libra, Scorpio, dan Sagitarius: Asmara hingga Keuangan

Risiko Suku Bunga Acuan Tinggi

Di sisi lain, Josua menyebut biaya kenaikan BI Rate juga besar. Kerugian paling langsung adalah biaya dana perbankan berpotensi naik.

Ketika suku bunga acuan naik, bank pada akhirnya perlu menyesuaikan bunga deposito untuk mempertahankan dana nasabah.

Jika biaya dana naik, bunga kredit akan lebih sulit turun dan bahkan bisa ikut naik secara bertahap.

Dampaknya terasa pada KPR, KKB, kredit modal kerja, kredit investasi, dan pembiayaan UMKM. Dunia usaha akan lebih berhati-hati memperluas usaha karena biaya pinjaman menjadi lebih mahal.

Kerugian kedua adalah tekanan terhadap konsumsi rumah tangga. Rumah tangga yang memiliki cicilan mengambang atau berencana mengambil kredit baru akan menghadapi beban yang lebih tinggi.

A
Tim Redaksi
Penulis: Anna Suleta
📰 Update Terbaru