Tekanan terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 diperkirakan meningkat seiring proyeksi pergerakan harga minyak mentah global.
Meski ada kesepakatan damai sementara antara Amerika Serikat dan Iran yang sempat menekan harga, pengelolaan subsidi energi di Indonesia tetap memerlukan kehati-hatian.
>>> Tongkang Batu Bara 80.000 Ton Didamparkan di Pantai Sukaresik Pangandaran
Praktisi industri minyak dan gas, Hadi Ismoyo, menyoroti selisih antara asumsi dasar negara dengan realitas pasar.
Lembaga keuangan Wall Street memproyeksikan rata-rata harga minyak dunia di kisaran US$80 per barel, melampaui patokan Indonesian Crude Price (ICP) dalam APBN 2026 yang sebesar US$70 per barel.
Total kebutuhan bahan bakar minyak (BBM) nasional mencapai 90 juta kiloliter (kl), dengan 60 persen atau 56 juta kl merupakan BBM bersubsidi.
Kenaikan realisasi ICP sebesar US$10 per barel dari asumsi awal diprediksi memicu pembengkakan subsidi.
"Jika asumsi harga naik dari US$70/barel menjadi US$80/barel, yield 0,65, dan kurs Rp17.800/US$, maka tambahan subsidi sekitar Rp1.800/liter," kata Hadi.
Risiko lonjakan tambahan subsidi dan kompensasi energi BBM diperkirakan bisa menembus Rp100 triliun.
>>> Garena Rilis Kode Redeem FF 19 Juni 2026 untuk Klaim Item Eksklusif
Menurut Hadi, satu-satunya jalan adalah meningkatkan pagu subsidi BBM dengan revisi APBN melalui optimalisasi, yaitu menghapus program yang tidak prioritas dan mengalihkannya untuk subsidi BBM.
Alokasi subsidi dan kompensasi energi pada APBN 2026 saat ini mencapai Rp381,3 triliun.
Serapan Subsidi BBM per 17 Mei 2026
Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) telah menetapkan regulasi kuota subsidi.
Data serapan menunjukkan realisasi penyaluran JBKP Pertalite sebesar 10,45 juta kl, lebih rendah 525.646 kl dari target kuota periode yang sama (10,98 juta kl), atau 35,74% dari total alokasi tahunan 29,26 juta kl.
Sementara itu, konsumsi JBT Solar mencapai 7,04 juta kl, lebih tinggi 50.090 kl dari kuota periode tersebut (6,99 juta kl).
>>> EA Sports Rilis Kode Redeem FC Mobile 19 Juni 2026, Klaim Hadiah Gratis
Angka ini setara dengan 37,8% dari total alokasi tahunan 18,6 juta kl.
Dampak Pakta AS-Iran terhadap Harga Minyak Global
Di tingkat internasional, fluktuasi harga komoditas energi dipengaruhi oleh pakta perdamaian sementara antara AS dan Iran.
Kesepakatan yang telah ditandatangani secara digital oleh kedua presiden berpotensi membuka kembali ekspor minyak dari Timur Tengah setelah blokade Selat Hormuz.
Sentimen positif ini menekan harga. Minyak Brent untuk pengiriman Agustus terkoreksi 0,6% ke US$79,35 per barel di perdagangan Singapura.
West Texas Intermediate (WTI) pengiriman Juli melemah 0,7% menjadi US$76,09 per barel, dan kontrak WTI Agustus turun 0,5% ke US$75,49 per barel.
Goldman Sachs memangkas proyeksi harga minyak Brent untuk kuartal IV-2026 dari US$90 menjadi US$80 per barel, dengan asumsi normalisasi ekspor Teluk kembali ke level sebelum konflik pada akhir Juli.
>>> Google Resmi Rilis Android 17, Perangkat Pixel Terima Pembaruan Pertama
Morgan Stanley juga menyesuaikan proyeksi, dengan patokan Dated Brent rata-rata US$90 per barel di kuartal III-2026, lalu turun US$15 menjadi US$80 per barel pada kuartal IV-2026.