⌂ Beranda News BGN Revisi Insentif Satuan Pelayanan Gizi untuk Cegah Pemborosan

BGN Revisi Insentif Satuan Pelayanan Gizi untuk Cegah Pemborosan

BGN Revisi Insentif Satuan Pelayanan Gizi untuk Cegah Pemborosan
Ilustrasi program makan bergizi gratis BGN
A A Ukuran Teks16px

Badan Gizi Nasional (BGN) akan merevisi kebijakan insentif bagi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dalam program makan bergizi gratis (MBG).

Langkah ini bertujuan menata ulang pelaksanaan program agar lebih efisien.

>>> Kesepakatan AS-Iran Berpotensi Picu Lonjakan Inflasi Global

Kebijakan penghapusan sistem insentif rata Rp6 juta per hari disampaikan di Gedung DPR, Jakarta, pada Senin (15/6/2026).

Penataan ulang diawali dengan refocusing data penerima manfaat program MBG.

BGN menilai pemberian insentif yang dipatok rata tanpa melihat jumlah penerima manfaat memicu pemborosan keuangan negara.

Wakil Kepala BGN Agustina Arumsari memaparkan bahwa setelah data penerima manfaat dipastikan, besaran nilai insentif akan disesuaikan dengan jumlah layanan dari masing-masing SPPG.

"Jadi itu termasuk (evaluasi pemberian insentif), setelah data penerima manfaat itu fix, kami harapkan nanti insentifnya tidak fix Rp6 juta semua.

Sekarang kan diubah oleh yang dulu ya bahwa penerima manfaatnya 1.500 pun insentifnya Rp6 juta, 500 pun Rp6 juta, kan yang dulu begitu," ujar Agustina.

>>> SKB 3 Menteri Tetapkan 16 Juni 2026 Libur Nasional Tahun Baru Islam

Pihak BGN memastikan alokasi anggaran program ini ke depan akan lebih tepat sasaran. Evaluasi dilakukan karena sistem yang berjalan saat ini dinilai memiliki kecenderungan memboroskan keuangan negara.

"Tidak (dipukul rata pemberian insentif).

Iya, jadi semua itu diharapkan nantinya kita akan memang bagaimana program ini tercapai tetapi anggarannya betul-betul sesuai sasaran.

Jadi tidak model seperti yang sekarang yang memang ada kecenderungan untuk lebih boros ya, jadi boros keuangan negara," terang Agustina.

Audit Dapur SPPG dan Penggabungan

Selain penyesuaian nominal insentif, BGN juga menguji kualitas serta standar keamanan pangan yang diproduksi dapur SPPG.

>>> Salinan Langka Super Mario Bros 1986 Terjual Rp53 Miliar, Pecahkan Rekor

Peluang penggabungan antar-SPPG turut terbuka jika jumlah penerima manfaat di suatu wilayah terlalu sedikit.

"Lalu model dari insentif sendiri itu kita akan evaluasi bukan sekedar menghasilkan output berapa lalu diberikan itu.

Bagaimana Anda mampu menghasilkan makanan yang berkualitas, standar makanannya, keamanannya pangannya terpenuhi.

Jadi kita akan bikin beberapa composite untuk penilaian supaya tidak sekedar pokoknya aku mau masak sup ini," jelas Agustina.

Pelaksanaan audit menyeluruh terhadap seluruh dapur SPPG akan memanfaatkan momentum libur sekolah yang sedang berjalan.

BGN menyetop sementara waktu penyaluran makanan bergizi gratis selama proses pembenahan tata kelola tersebut.

>>> Umat Islam Diimbau Amalkan Puasa Sunnah 1 Muharram 1448 Hijriah

"Kami juga memanfaatkan momentum untuk libur sekolah ini, kami akan stop semua, kami akan audit semua dapur, sehingga nanti mudah-mudahan ketika nanti anak-anak sudah masuk sekolah kita sudah lebih baik kondisi di lapangan," terang Agustina.

H
Tim Redaksi
Penulis: Hana
📰 Update Terbaru