Kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran berpotensi memulihkan permintaan minyak China. Hal itu dapat mendorong tekanan inflasi global, menurut proyeksi Bloomberg Economics.
Proyeksi tersebut mengasumsikan kesepakatan damai tetap berlaku. Aliran energi ke ekonomi terbesar kedua di dunia pun dipulihkan.
>>> Umat Islam Diimbau Amalkan Puasa Sunnah 1 Muharram 1448 Hijriah
Ekonom Bloomberg Chang Shu dan David Qu dalam catatan pada Senin (15/6/2026) menyatakan, selama konflik China bertindak sebagai peredam guncangan bagi pasar energi global.
Penurunan tajam impor minyak mentah China membantu meredam tekanan harga minyak.
"Setiap pemulihan permintaan minyak China — terutama jika aliran energi tetap terbatas — dapat memperketat pasar energi global, menghidupkan kembali tekanan inflasi, dan mempersulit tugas yang dihadapi bank sentral," tulis mereka.
Pengiriman minyak Iran ke China menghadapi tekanan besar akibat penurunan permintaan dan blokade Amerika. Perdagangan ini telah bertahan bertahun-tahun di bawah sanksi AS.
Aliran minyak mentah Iran ke China anjlok menjadi sekitar 160.000 barel per hari pada Mei.
>>> Honor Bocorkan Spesifikasi X80 Pro Max: Baterai 11.000 mAh dan Layar 10.000 Nits
Angka tersebut turun drastis dari 1,8 juta barel per hari pada Februari sebelum serangan AS dan Israel ke Iran dimulai.
China, pembeli minyak Iran terbesar di dunia, secara konsisten menyerukan pemeliharaan gencatan senjata. Negara itu juga mendesak pembukaan kembali Selat Hormuz.
Implikasi bagi Ekonomi China
Keberlanjutan kesepakatan AS-Iran akan berdampak luas bagi ekonomi China yang bergantung pada ekspor.
Konflik berkepanjangan berisiko mengurangi permintaan luar negeri karena harga minyak yang lebih tinggi mendorong kenaikan biaya input dan pengiriman.
>>> Harga Emas Antam 15 Juni 2026 Naik Rp 18.000 Per Gram
Presiden AS Donald Trump saat kunjungan ke Beijing bulan lalu menyatakan memiliki tujuan bersama dengan pemimpin China Xi Jinping untuk menyelesaikan konflik.
Target utamanya adalah pembukaan kembali Selat Hormuz dan memastikan Iran tidak memiliki senjata nuklir.
China bersama AS merupakan penandatangan perjanjian 2015 tentang pembatasan program atom Iran. Dalam perkembangan diplomasi, China mendukung Pakistan sebagai perantara utama antara AS dan Iran.
Beijing memainkan peran diam-diam dalam menjaga gencatan senjata kedua negara. Hubungan ekonominya dengan Iran memungkinkan China memengaruhi pembicaraan damai Timur Tengah.
Namun, keraguan mengenai terobosan nyata dalam negosiasi AS-Iran masih ada. "[Hal] yang kita miliki lebih berupa nota kesepahaman," kata Pape kepada Bloomberg Television.
>>> BRI Hadirkan Solusi Pembiayaan Pra Purna untuk Persiapan Pensiun
"Apakah mereka benar-benar menyetujui persyaratannya, atau mereka mengatakan ingin menyelesaikannya antara sekarang dan Jumat?"