Ketidakpastian global yang semakin tinggi menuntut negara-negara di dunia untuk membangun kolaborasi yang lebih kuat.
Gangguan rantai pasok, fluktuasi harga energi, hingga ancaman perubahan iklim menjadi tantangan yang tidak bisa diselesaikan sendirian.
>>> Cara Mudah Mengurus Pemutihan Pajak Kendaraan Jakarta 2026
Menanggapi situasi tersebut, Indonesia mendorong kerja sama yang lebih erat antara negara-negara ASEAN dan EAEU melalui berbagai proyek strategis nasional.
Langkah ini diambil untuk memperkuat ketahanan bersama menghadapi dinamika global.
Ajakan tersebut disampaikan Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (Menko IPK) Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dalam forum EAEU-ASEAN pada St. Petersburg International Economic Forum (SPIEF) 2026 di Rusia.
Menurutnya, dunia saat ini menghadapi kondisi yang semakin kompleks dan penuh ketidakpastian sehingga resiliensi harus menjadi prioritas bersama.
“Sebagaimana disampaikan Presiden Prabowo Subianto, Indonesia memilih untuk membangun persahabatan dengan semua bangsa.
Kita percaya pada dialog di atas konfrontasi, kerja sama di atas persaingan, serta kemitraan yang saling menguntungkan bagi semua pihak,” ujar AHY dalam forum itu, Jumat, 5 Juni 2026.
>>> OJK Panggil Pemegang Saham KoinWorks Terkait Kasus Korupsi Kredit
Sistem global dalam beberapa tahun terakhir dinilai memperlihatkan kerentanan yang nyata.
Ketegangan geopolitik di satu kawasan dapat berdampak luas terhadap sektor energi, pangan, hingga pembangunan infrastruktur di berbagai negara.
ASEAN dan EAEU dianggap memiliki potensi besar untuk membangun rantai nilai baru yang lebih kuat dan saling melengkapi.
ASEAN menawarkan pasar yang dinamis, populasi muda, kekuatan manufaktur, serta konektivitas maritim, sedangkan EAEU unggul pada sektor energi, sumber daya alam, logistik, teknik, dan pertanian.
“Indonesia ingin memainkan peran tersebut, menjadi jembatan, penyeimbang, sekaligus mitra yang konstruktif dalam memperkuat stabilitas dan pertumbuhan bersama,” tegas AHY.
>>> Kanwil DJP Jakarta Barat Kantongi Rp300 Juta dari Lelang Barang Sitaan
Tiga agenda prioritas pembangunan infrastruktur dipaparkan untuk membuka peluang kerja sama internasional.
Proyek pertama yang ditawarkan Indonesia adalah dekarbonisasi di sektor transportasi dan energi untuk mendukung target Net Zero Emissions 2060.
Proyek kedua fokus pada penguatan konektivitas strategis melalui integrasi pelabuhan, sistem logistik, dan jaringan perkeretaapian nasional.
Selanjutnya, proyek ketiga adalah pembangunan infrastruktur yang tangguh terhadap perubahan iklim, termasuk perlindungan kawasan pesisir melalui Giant Sea Wall.
Kerja sama internasional saat ini dinilai harus konkret dan tidak sekadar menjadi komitmen di atas kertas.
Dunia membutuhkan proyek nyata yang mampu memberikan manfaat langsung bagi masyarakat sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi global.
>>> Festival Kampung Dongeng Gelar Gerakan Literasi Tutur Serentak di 57 Kota
“Kita perlu bergerak dari dialog menuju aksi, dari kerangka kerja menuju proyek nyata, dan dari komitmen menuju hasil yang dapat dirasakan masyarakat,” ujar AHY.
