Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengakhiri rapat penting di Situation Room Gedung Putih tanpa mengumumkan keputusan final terkait persetujuan draf perjanjian damai untuk menghentikan perang tiga bulan dengan Iran pada Rabu (27/5/2026).
Pertemuan tersebut sedianya membahas keputusan akhir setelah Trump merinci sejumlah syarat mutlak melalui media sosial Truth Social.
>>> Ramalan Zodiak Cinta Capricorn hingga Sagitarius: Kunci Hubungan Harmonis
Syarat itu sempat membuat harga minyak mentah dunia turun sebelum rapat selesai tanpa kepastian.
Beberapa poin krusial yang diwajibkan Trump bagi Iran meliputi larangan total kepemilikan senjata nuklir, pembukaan Selat Hormuz tanpa pungutan tarif, penghancuran material uranium bersama IAEA, serta penundaan kompensasi keuangan.
Namun, klaim sepihak dari pihak AS langsung memicu reaksi keras dan penolakan dari pemerintah Iran.
Kantor berita negara Iran, Fars, pada Sabtu (30/5/2026) membantah pernyataan Trump dan menilai sang presiden telah mengangkat isu yang bertentangan dengan dokumen asli.
"Tidak ada klausul mengenai pembebasan tarif Selat Hormuz di dalam teks perjanjian resmi.
Draf yang sedang dibahas juga sama sekali tidak menyebutkan pembongkaran atau penghancuran material nuklir Iran," kata Fars dalam laporannya.
>>> Cara Klaim Saldo BPJS Ketenagakerjaan Setelah Resign
Fars menegaskan poin paling krusial dalam draf tersebut adalah pembayaran segera sebesar US$ 12 miliar dari aset Iran yang dibekukan.
Iran mengancam akan menolak negosiasi lanjutan jika syarat itu diabaikan.
Sebelum perselisihan teks ini mencuat, pejabat Gedung Putih mengonfirmasi tim negosiator kedua negara sebenarnya telah mencapai kesepakatan awal berupa Nota Kesepahaman (MoU) berdurasi 60 hari.
Rencana tersebut mewajibkan Iran membersihkan ranjau laut dalam 30 hari, sementara AS akan mencabut blokade angkatan lautnya secara bertahap di Teluk Oman untuk memperpanjang gencatan senjata.
Kendati demikian, situasi di lapangan menunjukkan peningkatan ketegangan setelah Pentagon melaporkan Iran meluncurkan rudal balistik ke arah Kuwait dan mengerahkan drone tempur di sekitar Selat Hormuz.
Departemen Keuangan AS juga merilis paket sanksi baru yang menyasar kendali transit kapal dagang Iran.
>>> Kemenag Perpanjang Pendaftaran Beasiswa Indonesia Bangkit hingga 5 Juni 2026
Menteri Keuangan AS Scott Bessent memperingatkan Oman karena dinilai membantu rencana penarikan tarif kapal.
Sikap keras Iran terhadap tekanan ekonomi dan militer AS turut dipertegas oleh otoritas parlemen mereka.
"Kami merebut konsesi bukan lewat dialog, melainkan dengan rudal; dalam negosiasi, kami hanya membuat mereka paham.
Pemenang dari perjanjian apa pun adalah pihak yang paling siap menghadapi perang keesokan harinya," tulis Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf di akun media sosialnya.
Krisis geopolitik ini merupakan puncak dari perang terbuka skala terbatas sejak AS meluncurkan serangan udara dengan pesawat pengebom siluman B-2 sebelas bulan lalu yang menghancurkan fasilitas pengayaan nuklir bawah tanah Iran.
Serangan tersebut dibalas Teheran dengan memblokade Selat Hormuz melalui penyebaran ranjau laut yang melumpuhkan 20 persen pasokan minyak mentah dunia.
>>> EBITDA PT BUMA Internasional Grup Tbk Melesat 98 Persen pada Kuartal I-2026
AS kemudian merespons dengan menerapkan blokade tandingan di Teluk Oman.