⌂ Beranda News Saint Levant: Musik Pop Palestina di Tengah Konflik

Saint Levant: Musik Pop Palestina di Tengah Konflik

Saint Levant: Musik Pop Palestina di Tengah Konflik
Saint Levant tampil dengan latar bendera Palestina
A A Ukuran Teks16px

Saint Levant, penyanyi Palestina keturunan diaspora, menjadi sorotan karena berani memadukan musik pop romantis dengan pesan politik di tengah konflik Timur Tengah.

Sebagian kritikus menilai menciptakan musik pop saat perang dan kehancuran tidaklah pantas. Namun, jutaan penggemar justru merasa artis ini memungkinkan mereka merayakan budaya dan perjuangan.

>>> Danantara Indonesia Trust Perluas Peran Sosial Lewat Tiga Kolaborasi

Perjalanan Karier dan Kontroversi

Saint Levant, nama panggung Marwan Abdelhamid, lahir di Yerusalem pada tahun 2000. Ia menghabiskan masa kecil di Gaza sebelum keluarganya mengungsi ke Yordania pada 2007 akibat konflik internal.

Ia meraih popularitas lewat single Very Few Friends pada 2022. Gaya multilingualnya yang memadukan Inggris, Arab, dan Prancis menjadi ciri khas.

Setelah eskalasi krisis di Sudan dan Gaza, ia bertransformasi dari sensasi viral menjadi suara politik yang menonjol di kancah musik Timur Tengah.

Album Deira dirilis pada Juni 2024, menampilkan citra masa kecilnya di Gaza. Lagu utamanya mengungkapkan kerinduan mendalam untuk kembali ke Palestina.

Pada tahun berikutnya, album Love Letters melambungkannya ke status bintang utama di Timur Tengah. Lagu Kalamantina meraih 77 juta streaming di YouTube.

Saint Levant kerap menghadapi kritik soal hak istimewa kelas dan keaslian budaya. Latar belakangnya sebagai diaspora kelas atas dipertanyakan, namun pendukung setia membela dedikasinya pada pembebasan.

>>> Kemendikdasmen Rilis Panduan Cek Nilai TKA 2026 dan Unduh Sertifikat Mandiri

Dalam pidato penerimaan penghargaan GQ France di Paris pada November 2023, ia secara langsung menyinggung krisis yang sedang berlangsung.

Ia mengaku sempat diperingatkan untuk tidak menyebut Palestina atau Gaza.

“Tapi Anda tidak bisa menyensor saya,” katanya, “dan saya tidak bisa diam sementara 8.000 anak Palestina dibunuh oleh pendudukan Israel yang telah berlangsung selama 75 tahun.”

Representasi pengalaman Palestina semakin memasuki budaya global arus utama. Hal ini terlihat dari proyek sinematik seperti The Voice of Hind Rajab dan dokumenter No Other Land.

Pertunjukan musiknya kerap memadukan perayaan tradisional dengan pesan politik eksplisit. Penonton sering mengibarkan bendera Palestina dan mengenakan keffiyeh.

Dalam konser di Doha, ayahnya naik panggung untuk membawakan cuplikan lagu jalanan Mesir kontroversial tahun 2000 oleh Shaaban Abdel Rahim.

Liriknya berbunyi: “Aku benci Israel / Dan aku akan mengatakannya jika mereka bertanya / Bahkan jika mereka membunuhku atau memenjarakanku / Aku benci Israel.”

>>> Ratusan Buruh Indomaret Demo di Menara PIK Tuntut Upah Lembur

Karya Saint Levant menjadi saluran ekspresi budaya tanpa campur tangan langsung otoritas setempat. Platformnya mencerminkan realitas populasi Palestina yang terus bertambah di perantauan.

Secara statistik, setengah dari 15 juta warga Palestina di dunia saat ini tinggal di luar tanah asal mereka.

Pengungsian massal dimulai sejak Nakba 1948, yang memaksa lebih dari 700.000 orang meninggalkan rumah.

Tambahan 300.000 orang mengungsi ke Yordania selama perang enam hari tahun 1967.

Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) menyebut situasi ini sebagai krisis pengungsi terlama yang belum terselesaikan di dunia.

Sebelum berkarier di musik, Abdelhamid mendirikan startup investasi bernama GrowHome. Usaha ini bertujuan menghubungkan pengusaha lokal Palestina dengan investor internasional.

>>> FSPMI Tuntut PT Indomarco Prismatama Bayar Upah Lembur Hari Libur

Hotel Al Deira yang dikelola keluarganya di Gaza hancur akibat bombardir pada akhir 2023. Ia kemudian pindah ke AS pada 2018 untuk kuliah di University of California.

A
Tim Redaksi
Penulis: Anna Suleta
📰 Update Terbaru