Harga tembaga mengalami lonjakan signifikan di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Kontrak berjangka untuk pengiriman tiga bulan bahkan menembus level US$14.000 per ton.
Kenaikan ini terjadi setelah komoditas tersebut mencatat pertumbuhan 3% dalam dua sesi perdagangan awal pekan ini. Situasi di kawasan konflik masih memanas dengan eskalasi serangan yang terus berlanjut.
>>> KPK Tangkap Kepala Imigrasi Jakarta Barat Terkait Izin Tinggal WNA
Beberapa peristiwa krusial termasuk serangan Iran yang diarahkan ke Kuwait. Selain itu, operasi militer Amerika Serikat yang menargetkan Pulau Qeshm turut memperburuk situasi, seperti dilaporkan Bloomberg News.
Sepanjang tahun ini, pergerakan harga tembaga sempat tertekan oleh konflik yang berkepanjangan. Kekhawatiran akan kenaikan suku bunga untuk meredam inflasi dinilai dapat mengikis permintaan pasar.
>>> Astra Honda Motor Pasarkan Tiga Varian Honda PCX160 per Juni 2026
Di sisi lain, pergolakan geopolitik ini justru mendorong harga aluminium ke level tertinggi dalam empat tahun terakhir.
Lonjakan terjadi setelah rentetan serangan terhadap sejumlah produsen logam di Teluk Persia.
Para pelaku pasar logam merah kini juga waspada terhadap kebijakan tarif baru dari pemerintah Amerika Serikat bulan ini.
>>> Prabowo Resmi Copot Kepala dan Wakil Kepala Badan Gizi Nasional
Regulasi tersebut berpotensi memberlakukan bea masuk tambahan untuk komoditas impor.
Antisipasi terhadap kebijakan tarif memicu penumpukan persediaan tembaga di dalam negeri AS. Akibatnya, pasokan komoditas serupa di berbagai wilayah lain menjadi semakin ketat.
>>> IHSG Terkoreksi 2,75% ke Level 6.025 pada Perdagangan Rabu Pagi
Harga tembaga ditutup melonjak akibat pesimisme kesepakatan damai di Timur Tengah dan peningkatan konflik geopolitik.