Pasar keuangan Indonesia mengalami tekanan besar pada perdagangan Rabu (3/6/2026).
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok 4,11 persen dan nilai tukar rupiah merosot ke level psikologis baru Rp17.940 per dolar AS.
>>> Trump Alokasikan Ratusan Juta Dolar untuk Sokong Pembangkit Batu Bara
Eskalasi konflik militer antara Amerika Serikat dan Iran di Timur Tengah menjadi pemicu utama.
Kombinasi sentimen global dan penurunan surplus neraca perdagangan domestik memicu aksi jual masif di pasar modal.
IHSG dan Bursa Global Terkoreksi
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, IHSG merosot 254,36 poin ke level 5.941,07. Nilai transaksi tercatat Rp25,3 triliun, dengan 692 saham ditutup melemah.
Investor asing membukukan penjualan bersih sebesar Rp983,29 miliar.
Pelemahan ini sejalan dengan jatuhnya bursa Wall Street AS.
Dow Jones Industrial Average turun 1,21 persen ke 50.687,07, S&P 500 melemah 0,74 persen ke 7.553,68, dan Nasdaq Composite terpangkas 0,89 persen menjadi 26.853,98.
>>> DPR Sahkan Revisi UU PPSK Jadi Usul Inisiatif Parlemen
Kejatuhan bursa global dipicu oleh kenaikan harga minyak mentah.
WTI naik 2,41 persen ke US$96,02 per barel, sementara Brent naik 1,89 persen ke US$97,81 per barel.
Ini terjadi setelah militer AS menghalau serangan rudal balistik Iran dan melancarkan serangan balasan di Pulau Qeshm.
Kondisi ekonomi AS yang masih tangguh membuat pelaku pasar memproyeksikan The Federal Reserve akan tetap mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi.
Data tenaga kerja ADP Mei serta ekspansi sektor jasa AS yang kuat ikut mendorong imbal hasil obligasi tenor 10 tahun mendekati 4,5 persen.
"Apa yang terjadi hari ini adalah koreksi pasar terhadap anggapan bahwa suku bunga akan mudah dipangkas ketika ekonomi justru terlihat semakin menguat," kata Shawn Snyder, ahli strategi ekonomi dari Potomac Fund Management, dikutip dari CNBC International.
>>> MNC Sekuritas: IHSG Berpotensi Lanjutkan Koreksi Hari Ini
Proyeksi suku bunga tinggi ini memicu penguatan dolar AS sebagai aset aman (safe haven). Hal ini menekan mata uang negara berkembang termasuk Indonesia.
Ekspektasi pasar terhadap penurunan permintaan ekonomi global akibat inflasi energi juga belum terbukti di lapangan.
"Anda belum melihat pelemahan permintaan seperti yang sebelumnya diperkirakan sebagian orang," tambah Snyder.
Dari dalam negeri, tekanan terhadap rupiah diperberat oleh data Badan Pusat Statistik.
Surplus neraca perdagangan April 2026 menyusut tajam menjadi US$90 juta, dibandingkan Maret 2026 yang mencapai US$3,32 miliar.
Menanggapi situasi ini, Bank Indonesia menyatakan bakal mengoptimalkan instrumen kebijakan untuk menstabilkan nilai tukar rupiah.
>>> Telkom Indonesia Cetak Pendapatan Rp37,2 Triliun pada Kuartal I 2026
Langkahnya termasuk memperluas kerja sama Local Currency Transaction (LCT) guna memangkas ketergantungan terhadap dolar AS.