⌂ Beranda News Saham Walmart Anjlok 7,3% Setelah Proyeksi Pertumbuhan Konservatif

Saham Walmart Anjlok 7,3% Setelah Proyeksi Pertumbuhan Konservatif

Saham Walmart Anjlok 7,3% Setelah Proyeksi Pertumbuhan Konservatif
Gedung Walmart dengan logo perusahaan
A A Ukuran Teks16px

Saham Walmart mengalami penurunan sebesar 7,3% pada Kamis setelah para eksekutif mengeluarkan prospek konservatif.

Mereka memperingatkan bahwa kenaikan harga energi dan biaya hidup yang tinggi akan memperlambat pertumbuhan penjualan.

>>> Survei Schroders: 35 Persen Pensiunan Hadapi Ketidakpastian Identitas Diri

Pertumbuhan penjualan diperkirakan hanya mencapai 4% hingga 5% pada periode Mei hingga Juli. Peringatan ini muncul meskipun Walmart melaporkan laba yang kuat untuk periode Februari hingga April.

Kinerja Kuartal dan Faktor Eksternal

Laba Walmart naik 19% year-on-year menjadi $5,3 miliar. Penjualan melonjak 7,3% menjadi $178 miliar, melampaui ekspektasi Wall Street.

Namun, kondisi yang sebelumnya meredakan tekanan inflasi konsumen mulai memudar.

>>> Bond Ladders via TIPS: Jembatan Pensiun yang Kuat

Salah satunya adalah kenaikan rata-rata pengembalian pajak sebesar 11% menjadi $3.462 berdasarkan Undang-Undang One Big Beautiful Bill.

Chief Financial Officer John David Rainey mengatakan bahwa perusahaan mungkin mendapat manfaat dari pengembalian pajak tersebut.

Namun, ia juga memperingatkan bahwa penutupan Selat Hormuz akan meningkatkan harga pangan yang bergantung pada pengiriman Teluk Persia, seperti pupuk, nitrogen, dan fosfat.

>>> Guzman y Gomez Tutup Restoran di Chicago, Hengkang dari Pasar AS

Kenaikan harga bahan bakar juga akan menekan harga jual rata-rata per unit. Rainey mencontohkan perilaku konsumen di lebih dari 400 stasiun bahan bakar milik Walmart.

"Dalam periode terakhir, jumlah galon yang diisi pelanggan saat datang ke stasiun bahan bakar kami turun di bawah 10 untuk pertama kalinya sejak 2022.

Itu adalah indikasi tekanan," ujar Rainey.

>>> Warren Buffett Raup Dividen 20% dari Investasi Coca-Cola

Menurut AAA, harga rata-rata satu galon bensin di Amerika Serikat mencapai $4,56, naik dari $3 saat AS menyerang Iran pada akhir Februari.

A
Tim Redaksi
Penulis: Anna Suleta
📰 Update Terbaru