⌂ Beranda News Utang Luar Negeri Indonesia April 2026 Naik Jadi US$439,8 Miliar

Utang Luar Negeri Indonesia April 2026 Naik Jadi US$439,8 Miliar

Utang Luar Negeri Indonesia April 2026 Naik Jadi US$439,8 Miliar
Grafik penurunan cadangan devisa Indonesia
A A Ukuran Teks16px

Rasio Utang dan Risiko Ekonomi

Rasio beban utang luar negeri Indonesia saat ini berada di level 29,6% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Indikator ini menandakan bahwa kapasitas finansial domestik masih kokoh untuk menopang total kewajiban tersebut.

Batas aman kerentanan utang bagi negara berkembang menurut acuan IMF dan Bank Dunia berada pada rentang 50% hingga 70% terhadap PDB.

>>> Honor Siapkan Ponsel Baru dengan Layar Super Terang 10.000 Nits

Namun, terdapat risiko perlambatan ekonomi yang diproyeksikan oleh Bloomberg Economics.

Pertumbuhan ekonomi nasional diperkirakan melambat ke level 5% pada kuartal kedua dari capaian kuartal pertama sebesar 5,61%.

Tren ini diproyeksi bertahan di angka 5% pada kuartal ketiga sebelum turun ke 4,69% pada kuartal akhir.

Kerentanan posisi ULN juga dipengaruhi oleh pergeseran instrumen pembiayaan yang kini lebih bertumpu pada pasar obligasi internasional dibandingkan dengan pola pinjaman bilateral masa lalu.

Utang bilateral pemerintah menyusut 28,37% sejak 2020 menjadi US$16,59 miliar pada April 2026.

Sebaliknya, SBN internasional melonjak 21,92% dari posisi awal sebesar US$77,7 miliar menjadi US$94,73 miliar.

Kondisi ini membuat posisi pembiayaan Indonesia menjadi lebih sensitif terhadap perubahan sentimen yang terjadi di pasar keuangan global.

Kepala Ekonom Josua Pardede menyebut risiko terbesar ULN datang dari kombinasi antara pelemahan rupiah, suku bunga global tinggi, penurunan cadangan devisa, surplus perdagangan yang menipis, dan kebutuhan pembayaran utang luar negeri yang tetap besar.

"Jika faktor-faktor ini terjadi bersamaan, tekanan terhadap ketahanan eksternal bisa meningkat meskipun rasio ULN terhadap PDB masih terlihat aman," kata Josua.

Dia menambahkan, pemerintah dan BI perlu menjaga agar ULN tetap diarahkan untuk kegiatan produktif dan berjangka panjang.

Seperti, meningkatkan kualitas belanja dan investasi publik, sambil tetap memastikan proyek yang dibiayai utang memiliki manfaat ekonomi jelas, serta memperkuat penerimaan negara agar beban bunga dan cicilan tidak menggerus ruang fiskal.

>>> Rosan Roeslani Temui 122 Investor Asing untuk Pulihkan Optimisme Pasar

Di sisi lain, Josua menyebut meski utang valas korporasi sedang terkoreksi, BI dan OJK juga tetap perlu terus memantau risiko valas korporasi, terutama sektor yang memiliki utang dolar AS tetapi pendapatan dalam bentuk rupiah.

A
Tim Redaksi
Penulis: Anna Suleta
📰 Update Terbaru