⌂ Beranda News Penguatan Rupiah Kurangi Tekanan BI untuk Naikkan Suku Bunga

Penguatan Rupiah Kurangi Tekanan BI untuk Naikkan Suku Bunga

Penguatan Rupiah Kurangi Tekanan BI untuk Naikkan Suku Bunga
Ilustrasi nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar AS
A A Ukuran Teks16px

Jakarta: Penguatan nilai tukar rupiah menuju kisaran Rp17.700 per dolar Amerika Serikat (AS) dalam beberapa hari terakhir dinilai telah mengurangi tekanan langsung terhadap Bank Indonesia (BI) untuk kembali menaikkan suku bunga acuan dalam waktu dekat.

Pergerakan rupiah yang lebih stabil memberikan ruang bagi bank sentral untuk mengevaluasi efektivitas kebijakan yang telah ditempuh sebelumnya.

>>> Meta Investasi Rp 248 Triliun Gandeng Pakar AI Alexandr Wang

Head of Research and Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully, mengatakan kondisi tersebut terjadi setelah BI mengambil langkah pre-emptive dengan menaikkan suku bunga acuan menjadi 5,50 persen pada awal bulan ini.

Kebijakan tersebut dinilai membantu menjaga stabilitas pasar keuangan di tengah ketidakpastian global yang masih berlangsung.

Selain faktor nilai tukar, penurunan harga minyak dunia juga memberikan sentimen positif bagi perekonomian domestik.

“Harga minyak Brent yang terkoreksi ke kisaran awal USD80 per barel dinilai mampu menurunkan premi risiko yang sebelumnya meningkat akibat ketegangan geopolitik di berbagai kawasan,” tegas Rully.

>>> Komisi XI DPR Panggil Kemenkeu dan Danantara Bahas Underinvoicing Ekspor

Menurutnya, melemahnya tekanan harga minyak berpotensi mengurangi risiko inflasi impor yang selama ini menjadi salah satu perhatian utama otoritas moneter.

Di sisi lain, kondisi tersebut juga dapat membantu menekan potensi peningkatan beban subsidi energi yang harus ditanggung pemerintah.

BI Akan Hati-Hati dalam Kebijakan Moneter

Meski demikian, Rully menilai BI masih akan bersikap hati-hati dalam menentukan arah kebijakan moneternya ke depan.

>>> David Alaba Tampil Starter untuk Austria Hadapi Yordania di Piala Dunia 2026

Bank sentral diperkirakan tetap mengedepankan pendekatan berbasis data atau data dependent, dengan mempertimbangkan perkembangan ekonomi domestik maupun global secara menyeluruh.

Ia menjelaskan pergerakan rupiah dan sentimen risiko global akan menjadi faktor utama yang memengaruhi keputusan BI dalam beberapa bulan mendatang.

Stabilitas pasar keuangan internasional, arah kebijakan suku bunga negara maju, serta perkembangan geopolitik masih akan menjadi variabel yang terus dipantau.

Ke depan, BI diperkirakan akan memanfaatkan seluruh bauran instrumen kebijakan yang dimiliki untuk mendorong nilai tukar dolar AS terhadap rupiah berada pada kisaran yang lebih nyaman, yakni sekitar Rp16.800 hingga Rp17.500.

>>> Marjorie Taylor Greene Kecam Kebijakan Perang Trump Picu Inflasi

Meredanya ketegangan geopolitik dan penurunan harga minyak dinilai membuka ruang yang lebih besar bagi upaya stabilisasi rupiah dalam jangka pendek hingga menengah.

H
Tim Redaksi
Penulis: Hana
📰 Update Terbaru