Harga minyak mentah dunia kembali naik setelah Amerika Serikat meluncurkan serangan udara ke wilayah Iran pada Rabu, 10 Juni 2026.
Aksi militer ini memicu kekhawatiran baru atas stabilitas pasokan energi global dari Timur Tengah.
>>> Bank Indonesia Naikkan BI-Rate Menjadi 5,50 Persen
Minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) sempat melonjak hampir 2% mendekati level US$90 per barel.
Penguatan ini mengompensasi pelemahan pada perdagangan Selasa sebelumnya, saat indeks acuan AS tersebut ditutup turun 3,4%.
Serangan Balasan AS
Militer AS menyatakan serangan ini merupakan instruksi langsung dari Presiden Donald Trump. Langkah itu sebagai respons atas ditembak jatuhnya helikopter Apache milik AS oleh Iran.
"Misi ini merupakan respons proporsional terhadap agresi Iran yang tidak berdasar," ujar Komando Sentral AS (Centcom). Pihak berwenang AS menegaskan serangan diluncurkan untuk membela diri.
>>> Permintaan Saham IPO SpaceX Membeludak, Oversubscribed Berkali-kali Lipat
Media resmi Iran, IRIB, melaporkan enam ledakan akibat rudal di Pulau Qeshm, yang berlokasi di Selat Hormuz. Sebelumnya, Trump menuduh Iran menembak helikopter yang sedang berpatroli.
Ketegangan baru ini berisiko mengganggu gencatan senjata dan menghambat perundingan damai permanen, setelah sebelumnya Iran dan Israel saling serang.
"Peristiwa ini menunjukkan bahwa kesepakatan dengan Iran masih jauh dari kenyataan," kata Saul Kavonic, analis energi senior di MST Marquee.
Namun, pasar masih menaruh harapan pada penyelesaian konflik. "Pasar sedikit terhibur karena serangan bersifat proporsional, bukan serangan total.
Keinginan untuk mencapai kesepakatan masih lebih besar," ujarnya.
>>> Harga Emas Perhiasan Raja Emas Indonesia Turun 10 Juni 2026
Ketegangan ini berpotensi memperpanjang penutupan Selat Hormuz yang diblokade sejak akhir Februari. Kondisi itu memicu kekhawatiran krisis inflasi karena pasokan minyak, bahan bakar, dan gas global tersendat.
Persediaan minyak mentah AS sendiri menyusut 9,1 juta barel pekan lalu, menjadi level terendah dalam empat bulan terakhir.
"Setiap hari yang berlalu semakin memperketat pasar karena cadangan minyak global terus turun," kata Kavonic.
Pada perdagangan pukul 06.42 waktu Singapura, minyak WTI untuk pengiriman Juli naik 1% ke US$89,05 per barel.
>>> Bank Danamon Salurkan Fasilitas Kredit Rp500 Miliar ke Akulaku Finance
Sementara itu, minyak Brent untuk pengiriman Agustus melemah 3% ke US$91,45 per barel.