PT Pan Brothers Tbk (PBRX) membidik pertumbuhan penjualan sekitar 10 persen pada 2026. Target ini sejalan dengan fokus perseroan memperkuat fundamental operasional pasca restrukturisasi utang.
Emiten tekstil dan garmen ini mengedepankan efisiensi, digitalisasi, serta optimalisasi kapasitas produksi. Langkah strategis tersebut dipilih untuk menjaga kehati-hatian dalam pengelolaan modal kerja.
>>> BTN Berhasil Tekan Rasio NPL Jadi 3,1 Persen Berkat Transformasi Bisnis
Fokus pada Efisiensi dan Digitalisasi
PBRX memutuskan tidak membangun fasilitas produksi baru atau melakukan ekspansi fisik yang memerlukan belanja modal besar.
Sebaliknya, perseroan berinvestasi pada sistem digital dan otomasi di dalam pabrik yang sudah ada.
Direktur Keuangan Pan Brothers Fitri R. Hartono mengatakan implementasi mesin dan perangkat lunak baru terus berjalan.
Hal ini diharapkan meningkatkan efisiensi dan output produksi.
"Kalau ekspansi fisik seperti membangun pabrik baru belum ada dalam rencana.
Namun di dalam pabrik kami terus melakukan otomasi dan digitalisasi melalui penambahan mesin maupun software baru," ujar Fitri.
>>> Laba Industri P2P Lending Melonjak 71 Persen pada April 2026
Sebagai manufaktur berbasis pesanan, Pan Brothers baru memulai produksi setelah mendapatkan kontrak dari pemilik merek global.
Manajemen menilai dampak pelemahan rupiah terhadap dolar AS relatif terbatas karena adanya mekanisme lindung nilai alami.
Mayoritas pendapatan ekspor perseroan menggunakan denominasi dolar AS. Sementara itu, sekitar 60 hingga 65 persen kebutuhan bahan baku juga dibeli dengan mata uang yang sama.
"Penjualan kami menggunakan dolar AS, sementara sebagian besar bahan baku juga dibeli dalam dolar AS. Jadi secara alami kami memiliki natural hedge," jelas Fitri.
Menurutnya, stabilitas kurs menjadi faktor yang jauh lebih krusial daripada sekadar penguatan atau pelemahan mata uang. Fluktuasi nilai tukar yang terlalu tinggi dapat memicu kekhawatiran dari pihak pembeli.
"Yang paling dibutuhkan sebenarnya kestabilan nilai tukar. Kalau pergerakannya terlalu fluktuatif, buyer juga bisa menjadi khawatir," tambah Fitri.
Untuk menyokong target penjualan, PBRX mulai menjajaki kerja sama dengan beberapa pembeli baru di pasar global. Amerika Serikat, Eropa, dan Asia tetap mendominasi sebagai tujuan utama ekspor perusahaan.
>>> Timnas Indonesia U-19 Ungguli Vietnam 1-0 di Babak Pertama Piala AFF
Kontrak baru yang sedang dijajaki diproyeksikan mampu memberikan tambahan penjualan sekitar US$ 2 juta hingga US$ 3 juta.
Namun, manajemen berkomitmen membatasi volume pesanan baru agar tidak membebani kebutuhan modal kerja.
"Ada beberapa buyer baru yang sedang kami jajaki, tetapi nilainya masih relatif kecil karena baru tahap awal.
Kami tetap harus konservatif karena semakin besar order yang diterima, semakin besar pula kebutuhan modal kerja yang harus disiapkan," kata Fitri.
Di samping strategi bisnis, Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) perseroan menyetujui penyesuaian Anggaran Dasar. Penyesuaian ini untuk menyelaraskan dengan Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia 2025.
Perubahan administratif tersebut tidak mengubah kegiatan usaha utama.
>>> Max Verstappen Rebut Posisi Start Kedua di GP Monako 2026
RUPS juga mengesahkan laporan tahunan serta menyetujui pengangkatan kembali jajaran direksi dan komisaris yang masa jabatannya telah berakhir.