Jakarta: Industri makanan dan minuman (mamin) masih menjadi sektor manufaktur yang tangguh dalam menopang pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Namun, pelaku industri minuman kemasan menilai pemulihan sektor ini belum sepenuhnya kembali ke kondisi ideal.
>>> Harga Yamaha Mio M3 125 Juni 2026 Dibanderol Rp 18.805.000
Di tengah ketidakpastian ekonomi global, pelemahan nilai tukar rupiah, dan tensi geopolitik, industri minuman kemasan tetap mampu menjaga pertumbuhan.
Berbagai tantangan struktural masih membayangi keberlanjutan bisnis para pelaku usaha.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang diolah Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, ekonomi nasional tumbuh 5,61 persen secara tahunan pada triwulan I-2026.
Industri pengolahan menjadi kontributor terbesar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dengan porsi 19,07 persen.
Subsektor makanan dan minuman menyumbang sekitar 7,31 persen terhadap PDB nasional. Hal ini menegaskan peran strategisnya sebagai penggerak utama manufaktur.
Peneliti Senior CORE Indonesia, Muhammad Ishak Razak, mengatakan konsumsi masyarakat selama Ramadan dan Idulfitri masih menjadi faktor utama yang menopang permintaan produk minuman kemasan.
Namun, kondisi tersebut belum sepenuhnya mencerminkan kekuatan fundamental pasar.
Menurut dia, pelaku industri masih menghadapi berbagai tekanan.
Mulai dari melemahnya nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh Rp17.900 per dolar AS, kenaikan biaya produksi, inflasi, hingga daya beli masyarakat yang belum pulih secara optimal.
>>> Dinas Pendidikan Jateng Wajibkan STJM dalam SPMB 2026
"Permintaan masih ditopang oleh momentum musiman seperti Ramadan dan Lebaran.
Namun tantangan struktural seperti pelemahan rupiah, kenaikan biaya produksi, dan tekanan terhadap daya beli masyarakat masih menjadi pekerjaan rumah bagi industri," ujarnya.
Tantangan Struktural dan Harapan Pelaku Industri
Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Minuman Dalam Kemasan (ASRIM), Triyono Prijosoesilo, menilai pertumbuhan industri makanan dan minuman yang tercatat sebesar 6,38 persen sepanjang 2025 belum mencerminkan pemulihan penuh.
Ia menjelaskan, sebelum pandemi Covid-19, sektor ini mampu mencatatkan pertumbuhan di kisaran 7 hingga 9 persen per tahun.
Sejumlah ekonom juga menilai pertumbuhan ekonomi pada awal 2026 masih banyak ditopang oleh belanja pemerintah serta faktor musiman Ramadan dan Lebaran.
"Pemulihan daya beli masyarakat masih belum sepenuhnya kuat. Karena itu, kondisi industri saat ini belum bisa dikatakan kembali normal seperti sebelum pandemi," kata Triyono.
Tekanan terhadap pelaku usaha juga datang dari sisi operasional. Ketergantungan terhadap impor bahan baku dan material kemasan membuat biaya produksi semakin rentan terhadap fluktuasi kurs rupiah.
Data inflasi April 2026 menunjukkan kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami inflasi sebesar 3,06 persen secara tahunan.
Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan inflasi nasional yang berada pada level 2,42 persen.
Menghadapi kondisi tersebut, pemerintah melalui Kementerian Perindustrian menegaskan komitmennya untuk menjaga iklim usaha tetap kondusif bagi sektor manufaktur.