⌂ Beranda News Ekonom Chatib Basri Soroti Erosi Kelas Menengah Indonesia

Ekonom Chatib Basri Soroti Erosi Kelas Menengah Indonesia

Ekonom Chatib Basri Soroti Erosi Kelas Menengah Indonesia
Ilustrasi kelas menengah Indonesia
A A Ukuran Teks16px

Kondisi ekonomi Indonesia pada 2026 dinilai tidak menuju krisis seperti 1998.

Kekuatan makroekonomi nasional saat ini lebih kokoh berkat nilai tukar fleksibel, perbankan sehat, cadangan devisa kuat, dan pengelolaan risiko valas yang lebih baik.

>>> Harga Pangan Nasional 15 Juni 2026 Turun, Cabai Pimpin Penurunan

Meski indikator makro stabil, terdapat persoalan krusial pada kesejahteraan masyarakat.

Ekonom senior Chatib Basri mengungkapkan kelompok berpendapatan menengah, khususnya desil 5 hingga desil 8, menjadi pihak paling tertekan selama tujuh tahun terakhir.

Fenomena Kelas Menengah Tertekan

Fenomena ini memicu pertanyaan mengapa kelas menengah tumbuh negatif di tengah inflasi terkendali, sistem keuangan stabil, dan perluasan bantuan sosial.

Penurunan daya beli kelas menengah kini berdampak pada ketahanan ekonomi mikro, pasar modal, dan nilai mata uang.

Kondisi ini mengindikasikan perlunya evaluasi pada tataran teoritis yang melahirkan arah kebijakan pembangunan ekonomi.

>>> Penjualan Motor Domestik Mei 2026 Turun 7,98%, Ekspor Komponen Cetak Rekor

Arah pembangunan selama ini cenderung fokus memberi fasilitas bagi pemilik modal dan memperluas perlindungan sosial bagi kelompok miskin.

Kebijakan tersebut membuat kelas menengah berada di area abu-abu karena tidak menerima insentif modal besar dan tidak masuk sasaran bantuan sosial.

Padahal, kelompok ini merupakan penopang utama konsumsi domestik, pembayar pajak terbesar, dan penggerak usaha kecil dan menengah.

Ketika kemampuan konsumsi dan investasi rumah tangga kelompok menengah melemah, fondasi pertumbuhan ekonomi nasional ikut terdampak.

Struktur insentif politik dalam demokrasi modern juga membuat kebijakan lebih sensitif terhadap pemilik modal besar dan kelompok elektoral bawah.

>>> Unair Periksa Mahasiswi Terkait Dugaan Penggelapan Dana KIP Rp97 Juta

Akibatnya, formulasi kebijakan sering menjadi titik kompromi kedua kelompok tersebut, sementara perlindungan jangka panjang untuk kelas menengah terabaikan.

Evaluasi terhadap paradigma ekonomi neoklasik yang menekankan disiplin fiskal dan efisiensi pasar dinilai perlu dilakukan.

Sejarah pembangunan di Jepang, Korea Selatan, Taiwan, dan Singapura menunjukkan kemajuan ekonomi dicapai melalui penguatan kelas menengah.

Negara-negara tersebut mengorkestrasi pembangunan dengan menempatkan pasar sebagai alat mencapai tujuan nasional.

Indonesia memerlukan pengembangan teori ekonomi yang berangkat dari realitas sosial domestik untuk menempatkan pertumbuhan sebagai alat kesejahteraan, bukan sekadar angka PDB.

>>> Kenali 5 Tanda Tubuh Memasuki Masa Subur untuk Program Hamil

Tantangan utama bagi perumus kebijakan dan ekonom adalah merumuskan formulasi yang mampu memperkuat kelas menengah secara berkelanjutan.

A
Tim Redaksi
Penulis: Anna Suleta
📰 Update Terbaru