⌂ Beranda News Ekonomi Indonesia Melambat Sementara, Inflasi dan Daya Beli Jadi Tekanan

Ekonomi Indonesia Melambat Sementara, Inflasi dan Daya Beli Jadi Tekanan

Ekonomi Indonesia Melambat Sementara, Inflasi dan Daya Beli Jadi Tekanan
Grafik perlambatan ekonomi Indonesia akibat inflasi dan tekanan biaya hidup
A A Ukuran Teks16px

Ekonomi domestik menunjukkan tanda-tanda perlambatan yang dipicu oleh melemahnya keyakinan konsumen dan meningkatnya biaya hidup.

Fenomena ini terjadi tepat sebelum nilai tukar rupiah menguat ke posisi Rp17.910/US$ pada Jumat (12/6/2026).

>>> Donald Trump Gelar UFC Freedom 250 di Halaman Gedung Putih

Sektor riil mulai memperlihatkan perbaikan setelah sempat berada di zona kontraksi. Namun, lonjakan inflasi yang mencapai 3,08% dikhawatirkan mengikis daya beli masyarakat.

Peningkatan pengeluaran tercatat signifikan pada kelompok perawatan pribadi yang melonjak hingga 10,35%.

Kelompok makanan dan minuman menyumbang inflasi sebesar 4,94%, diikuti sektor transportasi 2,3%, restoran 2,24%, kesehatan 1,70%, serta pendidikan 1,15%.

Tekanan biaya hidup tidak hanya dirasakan oleh masyarakat berpendapatan rendah. Kelompok menengah kini turut menghadapi situasi serupa akibat penyesuaian harga energi non-subsidi.

Kenaikan harga meliputi Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertamax serta Elpiji non-subsidi. Kedua komoditas energi ini telah mengalami kenaikan harga sejak kuartal I-2026.

Perkembangan harga ini mulai memengaruhi kondisi psikologis pasar.

Berdasarkan Survei Konsumen Bank Indonesia, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Mei 2026 turun ke level 120,9 dari posisi April sebesar 123,0.

Angka ini menjadi rekor terendah sejak September tahun lalu.

Penurunan indeks tersebut utamanya disebabkan oleh merosotnya persepsi terhadap situasi ekonomi terkini sebesar 4,3 poin menjadi 112,2.

Kondisi ini membuat konsumen lebih menahan diri untuk membeli komoditas barang tahan lama.

Indeks pembelian durable goods seperti kendaraan bermotor, produk elektronik, hingga furnitur merosot ke angka 108,3. Rumah tangga cenderung mengambil langkah aman di tengah ketidakpastian.

>>> Presiden Tanjung Verde Kunjungi Atlanta Jelang Debut Piala Dunia

“Pelemahan ini mengindikasikan rumah tangga mulai bersikap lebih hati-hati di tengah tingginya ketidakpastian ekonomi dan meningkatnya biaya pinjaman setelah Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga,” sebut laporan Samuel Sekuritas.

Penurunan juga melanda persepsi ketersediaan lapangan kerja dalam enam bulan terakhir yang bertengger di posisi 105,0.

Angka ini mencerminkan pandangan masyarakat yang lebih konservatif terhadap peluang kerja dan peningkatan pendapatan.

Kondisi pasar yang menahan diri berimplikasi langsung pada kinerja penjualan ritel nasional. Merujuk data Survei Penjualan Eceran (SPE) Bank Indonesia, laju pertumbuhan penjualan pasar eceran mulai melambat.

Perlambatan ini terjadi setelah selesainya momentum musiman Ramadan dan Idulfitri.

Data Indeks Penjualan Riil (IPR) terkoreksi dari level 256,7 pada Maret menjadi 226,9 pada April, dan diproyeksikan BI menurun lagi ke level 225 pada Mei.

Manufaktur Mulai Pulih, Ekspor Masih Tertekan

Meskipun laju konsumsi rumah tangga melandai, sektor industri manufaktur justru memberikan indikasi yang lebih positif.

Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur Indonesia sukses merangkak naik dari posisi 49,1 menjadi 50,0 pada Mei 2026.

Posisi PMI di level 50 menandakan bahwa aktivitas produksi di pabrik telah keluar dari zona kontraksi dan mulai stabil.

A
Tim Redaksi
Penulis: Anna Suleta
📰 Update Terbaru