⌂ Beranda News Dokter Kandungan Ungkap Faktor Ekonomi Tunda Pasangan Lakukan Program Hamil

Dokter Kandungan Ungkap Faktor Ekonomi Tunda Pasangan Lakukan Program Hamil

Dokter Kandungan Ungkap Faktor Ekonomi Tunda Pasangan Lakukan Program Hamil
Dokter kandungan berbicara dengan pasangan tentang program hamil
A A Ukuran Teks16px

Faktor ekonomi kini menjadi pertimbangan utama bagi banyak pasangan untuk menunda program hamil, meski kesadaran memeriksakan kesehatan reproduksi di Jakarta meningkat.

Hal itu diungkapkan dokter spesialis obstetri dan ginekologi subspesialis fertilitas dari Klinik Bocah Indonesia, dr Steven Aristida, Sp.

>>> OJK Proyeksikan Suku Bunga Kredit Berpotensi Naik Imbas BI Rate

OG, Subsp. FER, FICS.

Informasi tersebut disampaikan dalam perayaan ulang tahun ketujuh Klinik Bocah Indonesia bertajuk "7 Wonders: The Journey Beyond Limits" di Park Hyatt Jakarta pada Minggu (31/5/2026).

Menurut dr Steven, angka pasangan yang menghadapi infertilitas masih tinggi. "Kesadaran untuk diagnosis sebenarnya meningkat.

Orang makin berani memeriksa diri, namun sebagian pasangan masih menunda memulai program hamil karena mempertimbangkan kondisi ekonomi," ujarnya.

Gangguan Reproduksi dan Faktor Pria

Gangguan kesehatan reproduksi pada perempuan maupun laki-laki menjadi penyebab paling sering dari kasus infertilitas. Pada perempuan, umumnya berupa PCOM/PMOS, endometriosis, dan keguguran berulang.

"Male factor menempati sekitar 30% dari keseluruhan kasus infertilitas. Jadi bukan hanya persoalan perempuan," kata dr Steven.

Pergeseran pola pikir membuat kaum pria kini lebih terbuka memeriksakan kesuburan melalui empat parameter: konsentrasi, motilitas, morfologi, dan DNA Fragmentation Index (DFI) sperma.

>>> BPS: Inflasi Tahunan Indonesia Naik ke 3,08 Persen pada Mei 2026

"DFI yang tinggi dapat memengaruhi kesuburan dan meningkatkan risiko keguguran, bahkan ketika kehamilan sudah berhasil terjadi," jelasnya.

Keguguran berulang, didefinisikan sebagai kehilangan kehamilan dua kali atau lebih tanpa batasan waktu, mendapat perhatian khusus karena dampak psikologisnya.

"Kondisi ini tidak hanya soal kegagalan kehamilan, tetapi juga dapat menurunkan mental pasangan," ujar dr Steven.

Penanganan komprehensif harus dilakukan, termasuk pemeriksaan rahim, kualitas sel telur, faktor pembekuan darah, autoimun, hingga DFI pada pria.

Dr Steven mengimbau masyarakat tidak mengabaikan nyeri menstruasi berat yang mengganggu aktivitas karena bisa menjadi indikasi endometriosis. "Banyak pasien endometriosis baru terdiagnosis setelah bertahun-tahun menahan nyeri.

Padahal diagnosis dini penting agar fungsi reproduksi tetap terjaga," katanya.

>>> Harga Bitcoin Anjlok di Bawah US$ 71.000, Tertekan Aksi Jual Perdana Strategy

Ia menambahkan, warna darah haid atau gumpalan darah tidak langsung menunjukkan penyakit tertentu, sehingga diagnosis tetap memerlukan pemeriksaan medis lanjutan seperti ultrasonografi transvaginal.

Terkait waktu konsultasi, pasangan di bawah 35 tahun disarankan berkonsultasi jika belum hamil setelah 12 bulan berhubungan rutin tanpa kontrasepsi, sedangkan yang di atas 35 tahun setelah 6 bulan.

"Cadangan sel telur perempuan menurun seiring usia, terutama setelah 35 tahun. Kualitas sperma juga berubah dengan pertambahan umur," ujar dr Steven.

Penerapan pola hidup sehat dengan konsumsi makanan minim proses dan diet antiinflamasi juga ditekankan untuk mendukung keberhasilan fertilitas.

Edukasi reproduksi mengenai promil alami, inseminasi buatan (IUI), hingga bayi tabung (IVF) dihadiri lebih dari 500 pasangan pejuang garis dua.

"Setiap pasangan memiliki perjalanan berbeda.

Karena itu kami ingin menghadirkan layanan fertilitas yang tidak hanya maju secara teknologi, tetapi juga personal dalam pendampingannya," ujar dr Pandji Sadar, MBBS, AMPH, Founder dan CEO Bocah Indonesia.

>>> Istana Bantah Kritik Pangkas Rombongan Dinas Luar Negeri Prabowo

Klinik Bocah Indonesia terus memperkuat layanan terintegrasi setelah meraih akreditasi internasional Reproductive Technology Accreditation Committee (RTAC) pada 2024 dan 2025.

H
Tim Redaksi
Penulis: Hana
📰 Update Terbaru