Analisis ilmiah terbaru dari World Weather Attribution (WWA) memperingatkan bahwa periode aman bagi umat Muslim untuk menunaikan ibadah haji di Mekah, Arab Saudi, semakin menyempit.
Hal ini disebabkan oleh lonjakan risiko kelelahan dan sengatan panas yang dipicu oleh perubahan iklim buatan manusia.
>>> Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,61%, Lampaui Rata-rata ASEAN dan G20
Laporan yang dirilis pada Selasa (2/6/2026) itu menyebutkan bahwa pergeseran tanggal ibadah haji setiap tahunnya karena mengikuti kalender lunar Islam turut memperparah situasi.
Kalender lunar berdurasi 10 hingga 15 hari lebih pendek daripada kalender matahari Gregorian.
Peneliti WWA menemukan bahwa suhu bulan Mei di Mekah saat ini sudah menyamai intensitas panas musim panas pada dekade 1980-an.
Suhu rata-rata Mei melonjak sekitar 3,5°C dibandingkan era pra-industri, sementara suhu puncak kini sekitar 2°C lebih panas.
Risiko kesehatan ini mengancam jemaah yang menghabiskan waktu 20 sampai 30 jam di luar ruangan untuk berjalan jauh di tengah kerumunan.
Suhu di atas 40°C pada Mei kini diperkirakan terjadi setiap dua hingga tiga tahun sekali.
>>> INET Resmi Ekspansi ke Perdagangan Besar Peralatan Telekomunikasi
Data laporan menunjukkan bahwa pada tahun 2024, lebih dari 1.300 jemaah haji meninggal dunia saat ibadah berlangsung pada Juni akibat gelombang panas yang menembus angka 51°C.
Meskipun otoritas Saudi telah menyediakan stasiun pendingin dan kipas angin, langkah mitigasi tersebut dinilai belum dapat diakses secara merata oleh semua jemaah.
Khususnya bagi mereka yang tidak mengantongi izin resmi.
Ancaman Semakin Nyata
Clair Barnes, peneliti di Imperial College London, mengatakan bahwa perubahan iklim menunjukkan ekspektasi yang didasarkan pada iklim yang sudah tidak ada lagi dapat diabaikan.
Pernyataan tersebut disampaikan menyusul hasil riset yang mengindikasikan semakin tingginya ancaman keselamatan bagi para jemaah di masa depan.
>>> Ruben Onsu Bantah Tudingan Hentikan Nafkah Anak, Ungkap Alasan Protes
“Analisis kami menunjukkan dengan sangat jelas bahwa semakin sedikit waktu dalam setahun yang aman bagi jutaan umat Muslim yang ingin menunaikan ibadah haji,” kata Clair Barnes.
Ancaman serupa juga disoroti oleh institusi riset kebencanaan yang melihat adanya bahaya nyata jika tren kenaikan suhu global ini terus berlanjut tanpa kendali.
Emmanuel Raju, direktur Copenhagen Centre for Disaster Research, Universitas Kopenhagen di Denmark, menekankan pentingnya langkah-langkah seperti kipas pendingin dan stasiun air.
Namun, ia juga mengingatkan bahwa jika suhu terus naik dengan laju ini, kesehatan dan nyawa jutaan orang selama ibadah haji mereka akan terancam.
Kekhawatiran tersebut diperkuat oleh proyeksi ilmiah bahwa sekitar 97 persen dari seluruh pelaksanaan ibadah haji akan berada dalam periode panas ekstrem yang berbahaya jika suhu global naik hingga 3°C pada tahun 2100.
Friederike Otto, profesor ilmu iklim di Imperial College London, menyoroti ironi bahwa industri bahan bakar fosil merupakan inti dari perekonomian Saudi.
>>> Polda Jateng Ungkap Mantan Artis Jadi Tersangka Sindikat Penipuan Online di Solo Baru
Hal itu memaksa para jemaah untuk menjalankan ritual haji dalam iklim yang sama sekali tidak cocok untuk itu.