⌂ Beranda News IDAI: Perubahan Iklim Tingkatkan Risiko Penyakit Tropis pada Anak

IDAI: Perubahan Iklim Tingkatkan Risiko Penyakit Tropis pada Anak

IDAI: Perubahan Iklim Tingkatkan Risiko Penyakit Tropis pada Anak
Anak sakit demam akibat penyakit tropis
A A Ukuran Teks16px

Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) memperingatkan bahwa perubahan iklim global memperbesar risiko penularan penyakit tropis pada anak.

Kenaikan suhu bumi dan pergeseran pola curah hujan menjadi faktor utama.

>>> Kementerian Pendidikan Perkuat Peran Kepala Sekolah dalam SPMB 2026 Ramah

Penyakit seperti demam berdarah dengue (DBD), malaria, dan diare menjadi ancaman yang perlu diwaspadai. Perubahan lingkungan mempermudah vektor pembawa penyakit berkembang biak dan memperluas wilayah penyebarannya.

Anggota Satuan Tugas Kesehatan Lingkungan dan Perubahan Iklim (KLPI) IDAI, Dr. dr. Riyadi, Sp. A.

Subsp. Inf.

P. T(K), M.

Kes, menjelaskan bahwa peningkatan suhu global memperluas wilayah tropis. Daerah yang sebelumnya jarang ditemukan kasus DBD kini mulai melaporkan kemunculannya.

"Secara global maupun lokal, peningkatan suhu bumi akan menyebabkan daerah tropis semakin luas.

>>> BIGBANG Gelar Konser di Jakarta International Stadium Januari 2027

Karena perubahan suhu ini, sekarang daerah-daerah yang dulu tidak kenal demam berdarah mulai muncul kasusnya," ujar Dr. Riyadi dalam seminar media IDAI.

Suhu lingkungan sangat memengaruhi siklus hidup nyamuk pembawa penyakit seperti DBD dan malaria.

Saat temperatur udara melonjak, serangga tersebut mampu bertahan hidup lebih lama dan mendiami wilayah baru yang dulunya terlalu dingin.

Ketidakberaturan pola hujan juga berperan penting. Tingginya intensitas curah hujan memicu munculnya genangan air baru yang menjadi tempat penumpukan telur nyamuk.

"Kalau curah hujan tinggi, biasanya risiko demam berdarah meningkat karena banyak genangan yang menjadi tempat nyamuk berkembang," jelasnya.

>>> Kementan Usul Frekuensi Konsumsi Telur dan Ayam dalam Program MBG Ditambah

Lonjakan Kasus Diare dan Kerentanan Anak

Dampak perubahan iklim tidak terbatas pada penyakit yang ditularkan melalui nyamuk. Cuaca ekstrem yang memicu banjir dapat merusak infrastruktur sanitasi dan menurunkan kualitas air bersih.

Keterbatasan akses air bersih dan sanitasi yang buruk mempercepat penyebaran patogen melalui air. Anak-anak menjadi korban paling rentan karena sistem pertahanan tubuh mereka belum sempurna.

Perubahan iklim secara tidak langsung merusak keseimbangan interaksi antara lingkungan, manusia, dan agen penyakit. Pola infeksi di berbagai daerah pun ikut berubah.

"Patogennya jadi pindah, host-nya menjadi rentan karena terpapar, kemudian faktor pembawanya juga bisa tumbuh dan berkembang biak di tempat tersebut," kata Dr. Riyadi.

Langkah Pencegahan Melalui Kebersihan Lingkungan

IDAI menekankan perlunya mitigasi dengan meningkatkan akses air bersih, memperbaiki sistem sanitasi, dan edukasi kesehatan massal. Upaya preventif berbasis lingkungan menjadi kunci memutus rantai penularan.

Masyarakat diimbau membersihkan lingkungan rumah, menguras penampungan air secara berkala, menjaga pasokan air bersih, dan menerapkan pola hidup sehat.

>>> Komedian Senior Haji Bolot Dirawat di ICU, Andre Taulany Minta Doa

"Kalau iklim berubah, penyakit yang sensitif terhadap lingkungan juga akan berubah pola penyebarannya. Anak-anak menjadi kelompok yang paling perlu kita lindungi," tutup Dr. Riyadi.

H
Tim Redaksi
Penulis: Hana
📰 Update Terbaru