Sejumlah negara mulai bersiap menghadapi kemunculan fenomena iklim El Nino yang diprediksi menjadi salah satu yang terkuat dalam beberapa dekade terakhir.
Fenomena ini diperkirakan membawa perubahan besar pada pola cuaca dunia, termasuk memicu kekeringan ekstrem, gelombang panas, hingga mengancam produksi pangan global.
>>> APJIPMI Laporkan Dugaan Monopoli Dua Merek Termitisida ke KPPU
Australia menjadi salah satu negara terkini yang menerbitkan peringatan resmi mengenai perkembangan situasi tersebut.
Biro Meteorologi Australia (BoM) mengonfirmasi bahwa pola cuaca El Nino telah terbentuk di Samudra Pasifik tropis dan berpotensi terus menguat pada paruh kedua tahun ini.
Lembaga tersebut memperkirakan intensitas fenomena tahun ini dapat menjadi yang tertinggi dalam kurun waktu sekitar 70 tahun terakhir.
"Perkiraan menunjukkan El Nino kuat hingga sangat kuat berdasarkan tingkat pemanasan yang terjadi di Pasifik tropis bagian tengah," tulis BoM dalam pernyataannya, dikutip dari Reuters.
Pihak BoM juga menambahkan bahwa sekitar separuh dari model iklim menunjukkan potensi intensitas tertinggi sejak pencatatan modern dimulai pada tahun 1950.
Australia secara resmi mendeklarasikan pembentukan fenomena ini setelah suhu permukaan laut di Pasifik tropis melampaui ambang batas normal dan indikator atmosfer menunjukkan kondisi yang konsisten.
Bagi Australia, fenomena ini berdampak langsung pada sektor pertanian karena posisi mereka sebagai salah satu eksportir terbesar gandum, gula, dan daging sapi dunia.
>>> Kementerian ESDM Belum Berencana Percepat Revisi RKAB Batu Bara 2026
Saat El Nino melanda, wilayah timur Australia umumnya mengalami penurunan curah hujan yang signifikan disertai lonjakan suhu udara.
Catatan sejarah menunjukkan dampak merusak dari fenomena ini.
El Nino pada periode 2023-2024 sempat menyebabkan tiga bulan terkering yang pernah tercatat di Australia, sedangkan fenomena kuat pada 2015-2016 memicu kekeringan luas yang menekan produksi biji-bijian serta tanaman minyak.
Sebelum pengumuman dari Australia, Amerika Serikat melalui NOAA telah lebih dahulu menyatakan bahwa kondisi El Nino sedang berkembang di Samudra Pasifik.
NOAA memperingatkan bahwa fenomena kuat ini dapat memengaruhi kondisi cuaca di berbagai belahan dunia secara ekstrem.
Kondisi ini biasanya memicu risiko hujan lebat di sebagian wilayah Amerika, tetapi sebaliknya membawa cuaca yang jauh lebih kering dan panas ke sejumlah kawasan di Asia dan Australia.
Langkah serupa diambil oleh Jepang melalui Badan Meteorologi Jepang (JMA).
>>> FBI Latih Agen Kejahatan Siber di Replika Kota Cyber Range
Lembaga tersebut menilai kriteria kondisi El Nino saat ini telah terpenuhi dan hampir dipastikan akan terus bertahan hingga musim gugur di negara mereka, sejalan dengan analisis NOAA mengenai pemanasan suhu laut di Pasifik.
Potensi Pemicu Krisis Pangan Global
Istilah 'Super El Nino' disematkan untuk menggambarkan intensitas ekstrem seperti yang pernah terjadi pada periode 1982-1983, 1997-1998, dan 2015-2016.
Tingkat pemanasan di Pasifik tengah saat ini memperkuat peluang terulangnya kategori kuat hingga sangat kuat tersebut.
Para ilmuwan juga memberikan peringatan bahwa pemanasan global dapat memperparah dampak yang ditimbulkan oleh El Nino.
Meski belum ada bukti konklusif mengenai frekuensi kemunculannya, dunia yang semakin hangat diyakini memperburuk efek gelombang panas, memperpanjang durasi kekeringan, memicu kebakaran hutan, dan mengganggu stabilitas pangan.
Kondisi kering saat ini dilaporkan mulai mengganggu musim tanam di beberapa negara.
Situasi tersebut memicu kekhawatiran terhadap pasokan pangan global, terutama di kawasan Asia yang menjadi rumah bagi sebagian besar populasi dunia.
>>> Kenali Pola Pikir Negatif yang Picu Cemburu Berlebihan Menurut Ahli
Jika pemanasan di Pasifik terus menguat dalam beberapa bulan ke depan, berbagai negara diperkirakan akan segera meningkatkan langkah antisipasi nyata guna meredam risiko krisis air bersih hingga lonjakan harga pangan di pasar internasional.
