Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya dan Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Habiburokhman memberikan tanggapan resmi terkait kritik mantan Wakil Menteri Luar Negeri Dino Patti Djalal.
Kritik tersebut menyoroti tingginya frekuensi dan anggaran kunjungan luar negeri Presiden Prabowo Subianto.
>>> Rusia Serang Ukraina dengan Rudal dan Drone, Sembilan Tewas
Pemerintah menyatakan tetap terbuka terhadap masukan. Namun, pihak istana meminta agar opini publik tidak mendistorsi hasil nyata diplomasi internasional yang telah dicapai.
“Ruang untuk setiap masukan tentu kita terima, tetapi jangan sampai kita mengaburkan fakta tentang semua hasil yang telah kita capai,” ujar Teddy Indra Wijaya dalam tayangan resmi Sekretariat Kabinet, Senin (1/6/2026).
Penjelasan Seskab soal Efisiensi dan Anggaran
Teddy mengapresiasi rekam jejak Dino sebagai diplomat profesional. Ia kemudian menanggapi substansi kritik satu per satu.
“Terima kasih atas masukan yang telah diberikan, sangat cermat dan terstruktur.
Saya pikir Beliau adalah diplomat hebat, pernah menjadi wakil menteri luar negeri, walau hanya diberi kesempatan sekitar tiga bulan,” tuturnya.
Teddy menjelaskan bahwa Presiden Prabowo telah memangkas jumlah anggota delegasi hingga di bawah setengah dari rombongan era sebelumnya.
Rombongan kepresidenan saat ini dibatasi antara 50 sampai 60 orang.
“Kalau dulu sekali ke luar negeri bisa lebih dari 120 orang. Zaman Pak Dino seperti itu.
Nah, zaman Presiden Prabowo jumlahnya antara 50 sampai 60 orang maksimal,” jelasnya.
Terkait pembengkakan biaya logistik, Sekretariat Kabinet menegaskan bahwa kelebihan anggaran di luar plafon resmi negara ditanggung langsung oleh kantong pribadi Presiden.
Pemerintah menambahkan bahwa agenda internasional disusun bersama Menteri Luar Negeri Sugiono berdasarkan skala prioritas, termasuk penanganan krisis global seperti situasi di Palestina.
Teddy menilai pendekatan personal intensif Presiden Prabowo sangat krusial bagi posisi geopolitik Indonesia di awal masa jabatan.
“Kita harus panen hubungan yang baik, lalu bila suatu saat ada kondisi mendesak, kita bisa minta bantuan, dan begitu pula sebaliknya,” ujarnya.
>>> Lesca Gadai Premier Hadirkan Layanan Gadai Barang Mewah untuk Likuiditas
Pihak istana menolak anggapan bahwa lawatan tersebut hanya bersifat seremonial tanpa hasil konkret. Agenda diplomasi ini disebut murni untuk mengamankan kepentingan nasional di tengah ketidakpastian global.
“Salah besar kalau dibilang hanya gagah-gagahan atau seremonial. Kita harus melihat apa yang sudah dicapai dalam 1,5 tahun terakhir ini,” pungkas Teddy.
Habiburokhman: Kritik Dino Kurang Etis dan Tidak Akurat
Secara terpisah, Ketua Komisi III DPR RI Habiburokhman menilai kritik Dino kurang etis dan tidak berlandaskan data akurat.
Ia menganggap usulan penundaan kunjungan kerja tidak relevan dengan dinamika politik global.
“Di era demokrasi dan keterbukaan, tentu kita senantiasa membuka diri terhadap kritik, termasuk dari mantan pejabat tinggi, seperti Dino Patti Djalal,” kata Habiburokhman kepada wartawan, Selasa (2/6/2026).