Serangan rudal dan pesawat nirawak (drone) dalam skala besar kembali diluncurkan militer Rusia ke berbagai wilayah Ukraina pada Selasa (2/6/2026) dini hari.
Gempuran udara tersebut mengakibatkan sedikitnya sembilan orang meninggal dunia dan melukai puluhan warga sipil lainnya.
Empat korban jiwa dilaporkan berasal dari ibu kota Kyiv. Sementara itu, lima korban meninggal lainnya berada di kota Dnipro, wilayah timur Ukraina.
Di Dnipro, sebanyak 25 orang juga dilaporkan mengalami luka-luka akibat serangan tersebut.
Serangan ini merusak sejumlah infrastruktur publik di Kyiv, termasuk sebuah klinik, stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), dan area non-residensial akibat jatuhnya puing bangunan.
Hingga saat ini, Staf Umum Angkatan Bersenjata Ukraina belum mengeluarkan data resmi mengenai jumlah total proyektil atau rudal yang ditembakkan dalam serangan tersebut.
Sebelumnya, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy telah memperingatkan kesiapan Rusia untuk mengintensifkan gempuran udara besar-besaran ke arah Kyiv.
Agresi ini terjadi setelah Presiden Rusia Vladimir Putin mengadakan rapat mendesak terkait investigasi ledakan di sebuah perguruan tinggi di Starobilsk, wilayah Luhansk yang diduduki Rusia.
Pihak berwenang bentukan Rusia menuduh Ukraina sebagai pelaku serangan di Starobilsk yang diklaim menewaskan 21 orang dan melukai puluhan lainnya.
Sebaliknya, pemerintah Ukraina membantah tuduhan tersebut.
Ukraina menegaskan bahwa operasi di Starobilsk murni menargetkan markas besar unit drone militer Rusia yang beroperasi di kawasan itu, bukan fasilitas sipil.
