Pemerintah Amerika Serikat menyatakan kesiapan persenjataan militer untuk kembali berkonfrontasi dengan Iran jika jalur diplomasi terkait program nuklir Teheran gagal.
Pernyataan itu disampaikan Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth dalam forum Shangri-La Dialogue di Singapura pada Sabtu (30/5/2026).
>>> Cara Cek dan Daftar BPJS Kesehatan PBI Gratis 2026
Langkah ini diambil di tengah upaya negosiasi antara Washington dan Teheran yang masih menyelaraskan perbedaan besar demi mencapai kesepakatan.
Presiden Donald Trump dilaporkan tetap mengedepankan diplomasi yang sabar guna memastikan Iran tidak memiliki akses terhadap senjata nuklir.
"Presiden sangat sabar. Ia hanya akan menerima kesepakatan yang hebat.
Bukan sembarang kesepakatan, melainkan kesepakatan yang benar-benar hebat," kata Hegseth.
>>> SpaceX Raih Kontrak Rp114,9 Triliun dari Angkatan Luar Angkasa AS Jelang IPO
Hegseth menambahkan bahwa Washington memikul tanggung jawab global untuk mencegah kepemilikan senjata nuklir oleh Iran.
AS mengklaim memiliki cadangan amunisi yang melimpah untuk memenuhi target tersebut. "Kami sepenuhnya mampu memulai kembali permusuhan jika perlu," tegas Hegseth.
Ia juga menepis anggapan bahwa ketegangan di Timur Tengah bakal mengganggu fokus keamanan AS di Asia-Pasifik. "Kita bisa melakukan dua hal sekaligus," cetusnya.
>>> Anwar Ibrahim Akan Jelaskan Hak Pendapatan Sabah 40 Persen Hari Ini
Anggaran Pertahanan Jumbo dan Tuntutan ke Sekutu
Pemerintahan Trump mengalokasikan anggaran pertahanan senilai 1,5 triliun dolar AS tahun ini yang memobilisasi seluruh produksi nasional.
AS kini menuntut para sekutu di Asia untuk mendongkrak belanja militer hingga 3,5 persen dari PDB. "Era pendanaan pertahanan negara-negara kaya oleh AS telah berakhir," tegas Hegseth.
Washington membutuhkan mitra strategis yang siap berbagi risiko dan tanggung jawab secara adil, bukan sekadar wilayah yang dilindungi.
"Kita membutuhkan mitra, bukan wilayah yang dilindungi. Tidak ada yang namanya keuntungan cuma-cuma," kata Hegseth.
>>> Film Baru Steven Spielberg Disclosure Day Menuai Pujian Kritikus
Pemerintahan Trump menempatkan Asia sebagai kawasan prioritas utama. AS akan mendahulukan kerja sama pertahanan, percepatan penjualan senjata, dan pertukaran intelijen dengan sekutu yang berkontribusi aktif.
