Sejumlah kapal tanker minyak yang terkait dengan Iran mulai mengubah posisi mereka. Langkah ini dilakukan sebagai persiapan menjelang penandatanganan kesepakatan damai.
Perjanjian tersebut diproyeksikan membuka jalan bagi Teheran untuk kembali menjual minyak mentah ke pasar global. Informasi pergerakan armada ini dilansir dari Bloomberg.
>>> Kansas City Gelar Piala Dunia 2026 dan Sediakan Berbagai Lokasi Nonton Bareng
Berdasarkan data pelacakan kapal, empat kapal terpantau menyalakan transponder. Armada itu mulai berlayar keluar dari kawasan Selat Hormuz atau Teluk Oman.
Dua di antaranya merupakan kapal supertanker atau very large crude carrier (VLCC). Kapal jenis ini memiliki kapasitas angkut hingga dua juta barel minyak mentah.
Perusahaan analisis TankerTrackers. com Inc. mengonfirmasi pergerakan tersebut melalui unggahan di media sosial X.
Setidaknya tiga kapal yang sebelumnya bersandar di pelabuhan Chabahar telah berpindah.
Pihak TankerTrackers menyatakan posisi armada tersebut belum diketahui secara pasti saat pemantauan awal.
Para pelaku pasar dan pedagang kini memantau setiap indikasi kembalinya arus minyak Iran ke pasar global.
Mereka juga mengantisipasi pencabutan blokade yang diterapkan Amerika Serikat (AS). Potensi lonjakan penjualan minyak diprediksi akan menambah pasokan ke pasar global.
Kondisi pasar minyak sendiri berada di bawah tekanan sejak rencana perdamaian diumumkan.
>>> Saham Chandra Asri Pacific Berpotensi Menguat ke Level Resistance
Firma analitik Kpler memperkirakan ada sekitar 68 juta barel pasokan minyak Iran yang masih terperangkap di dalam kawasan blokade.
Melalui draf kesepakatan yang hampir final pada Selasa, Iran dijadwalkan menerima keringanan sanksi di muka. Fasilitas ini memberi peluang bagi mereka untuk langsung memasarkan minyak.
Proses pemantauan perdagangan dilakukan secara intensif oleh TankerTrackers menggunakan citra satelit. Langkah ini krusial karena armada laut Iran dikenal memiliki pola pelacakan yang rumit.
Kapal-kapal tersebut sering mematikan sinyal navigasi secara sengaja. Aktivitas pelayaran di wilayah itu juga rentan terhadap pemalsuan dan pengacauan sinyal transponder.
Situasi ketegangan militer yang melibatkan Iran turut menambah kompleksitas sistem pelacakan kapal.
Di sisi lain, laporan media lokal Iran pada Selasa mengklaim proses pembukaan blokade AS di pelabuhan Iran sudah mulai berjalan.
Pembatasan maritim oleh Washington telah berlangsung sejak pertengahan April.
>>> Kurs Rupiah Melemah ke Rp 17.746 per Dolar AS pada 17 Juni 2026
Kantor Berita Mahasiswa Iran yang semi-resmi mengutip pernyataan Wakil Menteri Luar Negeri Iran, yang menyatakan proses pencabutan blokade angkatan laut AS kini memasuki tahapan implementasi.
Sementara itu, Komando Pusat AS tidak segera memberikan tanggapan tertulis saat dimintai keterangan melalui email.
Kebijakan blokade maritim AS sejak pertengahan April membuat armada tanker Iran tertahan di pelabuhan Chabahar.
Kapal-kapal tersebut tidak memiliki akses untuk melintas keluar.
Dalam beberapa pekan terakhir, pasukan angkatan laut Amerika sempat melepaskan tembakan terhadap beberapa kapal tanker yang mencoba menerobos jalur blokade.
Dua dari empat kapal yang mengaktifkan sinyal satelit diidentifikasi sebagai kapal pengangkut bahan bakar. Keduanya terpantau sedang melintasi Selat Hormuz.
Satu kapal dilaporkan melanjutkan pelayaran melalui perairan Teluk Oman pada Selasa. Satu kapal tanker lainnya menunjukkan data koordinat tujuan menuju wilayah lepas pantai Oman.
Proses negosiasi antara AS dan Iran kini sudah memasuki tahapan akhir. Agenda penandatanganan kesepakatan resmi dijadwalkan berlangsung pada hari Jumat pekan ini.
>>> Rupiah Melemah ke Rp17.738 per Dolar AS pada 17 Juni 2026
Perjanjian ini akan mengakhiri dua bentuk blokade maritim sekaligus. Yaitu pemblokiran Selat Hormuz oleh Teheran dan blokade total aktivitas pelayaran serta perdagangan minyak Iran oleh AS.