SpaceX berhasil mengamankan kontrak besar dari Angkatan Luar Angkasa Amerika Serikat (U. S.
Space Force) senilai total US$6,45 miliar atau sekitar Rp114,9 triliun.
>>> Anwar Ibrahim Akan Jelaskan Hak Pendapatan Sabah 40 Persen Hari Ini
Kontrak ini diumumkan menjelang rencana initial public offering (IPO) SpaceX yang akan digelar bulan depan.
Dana tersebut dialokasikan untuk proyek pembangunan satelit sistem pertahanan udara dan rudal yang diberi nama Golden Dome, inisiasi Presiden Donald Trump.
Perolehan kontrak ini melengkapi kesepakatan terpisah senilai US$2,29 miliar yang didapat SpaceX awal pekan ini untuk membangun jaringan komunikasi orbit rendah bumi.
>>> Film Baru Steven Spielberg Disclosure Day Menuai Pujian Kritikus
Menurut dokumen prospektus IPO yang diterbitkan pekan lalu, seperlima dari total pendapatan SpaceX sepanjang 2025 berasal dari lembaga pemerintah.
Dominasi SpaceX dalam industri peluncuran roket selama satu dekade terakhir menjadi alasan utama pemerintah federal terus mempercayakan proyek strategis kepada perusahaan pimpinan Elon Musk.
Di sisi lain, kedekatan personal Elon Musk dengan Donald Trump turut menjadi sorotan.
Musk diketahui menyumbang sekitar US$300 juta untuk kampanye pemilihan Trump dan menjaga hubungan dekat hingga kini.
>>> Danone SN Indonesia Edukasi Orang Tua soal Kesehatan Saluran Cerna Anak
Meski mendapat dukungan besar, SpaceX tetap memberikan catatan risiko kepada calon investor.
Manajemen SpaceX menyebutkan bahwa bisnis dengan entitas pemerintah tunduk pada perubahan kebijakan, prioritas, regulasi, mandat, dan tingkat pendanaan.
IPO SpaceX pada bulan depan diprediksi menjadi salah satu yang terbesar dalam sejarah pasar modal global.
>>> Cara Cek Penerima PKH Tahap 2 2026 Secara Online Lewat HP
Stabilitas kontrak jangka panjang dengan pemerintah AS akan menjadi faktor kunci dalam penilaian valuasi oleh investor.