Ekonom menilai target pertumbuhan ekonomi sebesar 5,8% hingga 6,5% yang tercantum dalam dokumen Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) Tahun Anggaran 2027 cukup ambisius.
Kepala Ekonom Bank Pertama Josua Pardede mengatakan target tersebut tidak hanya memasang asumsi pertumbuhan yang lebih tinggi, tetapi juga menunjukkan akselerasi pertumbuhan dalam pagar fiskal yang lebih disiplin.
>>> Paris Saint-Germain Diunggulkan Kalahkan Arsenal di Final Liga Champions
Menurutnya, angka 5,8% kemungkinan masih bisa dicapai. Namun, syaratnya tidak ringan.
Konsumsi rumah tangga harus tetap kuat. Belanja pemerintah harus lebih cepat dan lebih produktif.
Investasi harus naik. Kredit perbankan harus tetap tumbuh.
Ekspor tidak boleh terlalu tertekan oleh pelemahan global.
Bank Indonesia (BI) masih memproyeksikan pertumbuhan 2026 di kisaran 4,9% sampai 5,7%.
Asumsi 2027 sebesar 5,8% sampai 6,5% menunjukkan pemerintah mengharapkan percepatan besar setelah 2026.
Josua menambahkan, target itu bukan mustahil. Namun, tidak bisa hanya ditopang belanja pemerintah.
>>> Pemerintah Tunda Insentif Kendaraan Listrik Satu Bulan
Harus ada perbaikan nyata pada investasi produktif, hilirisasi, manufaktur bernilai tambah, logistik, dan kepastian aturan.
Pertumbuhan 5,8% masih layak sebagai skenario optimistis-terkendali. Angka 6,5% merupakan target dorongan kebijakan.
Untuk mencapai 6,5%, ekonomi perlu mesin pertumbuhan yang lebih luas dari sekadar konsumsi musiman dan belanja negara.
Pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026 kuat yakni 5,61%. Namun, sebagian didorong faktor Ramadan, Idulfitri, dan belanja pemerintah.
Kondisi tersebut belum cukup menjadi bukti bahwa ekonomi sudah masuk jalur pertumbuhan 6% secara berkelanjutan.
Kredit April 2026 masih tumbuh 9,98%, dengan kredit investasi tumbuh 19,48%.
>>> IHSG Melesat ke 6.217 Didorong Sentimen Positif Bursa Asia
Namun, kenaikan BI Rate ke 5,25% dan tekanan rupiah dapat menahan pembiayaan sektor riil bila berlangsung lama.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa meyakini peluang Indonesia cukup besar untuk mencapai angka pertumbuhan tersebut.
“Sekarang saja, tahun ini aja kita dorong menekati 6%, jadi peluangnya besar sekali. Saya harap tahun depan mesin-mesin swastanya udah berjalan lebih baik dibanding sekarang,” kata Purbaya.
Menurut Purbaya, dengan mesin-mesin dari swasta, roda ekonomi akan bergerak lebih cepat. Saat ini sektor swasta belum sepenuhnya bergerak.
Purbaya juga menegaskan belum akan ada pajak baru di tahun depan. Ia akan mengenakan pajak saat perekonomian sudah tumbuh lebih dari 6,5%.
“Nah kita akan lihat secara selektif.
Itu asumsi itu belum ada kenaikan pajak baru, tapi kalau nanti udah cukup sehat ekonomi masyarakat, ya kita akan pikirkan ini secara bertahap,” ujarnya.
>>> Erajaya Digital Luncurkan Dua Warna Baru Marshall Emberton III
Purbaya akan menerapkan pajak yang bisa menggerakkan daya beli masyarakat dan arah perekonomian Indonesia.
Asumsi Makro KEM-PPKF 2027
- Nilai tukar rupiah: Rp16.800/US$ hingga Rp17.500/US$
- Suku bunga SBN tenor 10 tahun: 6,5% hingga 7,3%
- Defisit APBN 2027: 1,80% hingga maksimal 2,40% dari PDB (lebih rendah dari realisasi 2025 sebesar 2,92%)
- Pendapatan negara: 11,82% hingga 12,40% dari PDB
- Belanja negara: 13,62% hingga 14,80% dari PDB
- Pertumbuhan ekonomi: 5,8% hingga 6,5% sebagai batu loncatan menuju 8% pada 2029
- Harga minyak mentah Indonesia (ICP): US$70-US$95 per barel
- Lifting minyak bumi: 602.000 hingga 615.000 barel per hari (bpd)
- Lifting gas bumi: 934.000 hingga 977.000 barel setara minyak per hari