Pasar obligasi mengalami gejolak signifikan setelah imbal hasil utang pemerintah jangka panjang melonjak tajam, meskipun para pembuat kebijakan di Washington saat ini meremehkan situasi tersebut.
Imbal hasil obligasi Treasury 30 tahun naik ke 5,10% pada Jumat lalu, setelah sempat mencapai 5,2% awal pekan.
>>> Lebih dari Separuh Pekerja AS Pensiun Lebih Awal dari Rencana
Angka ini merupakan level tertinggi sejak krisis keuangan 2007.
Tren serupa juga terjadi pada obligasi Treasury 10 tahun, yang memengaruhi suku bunga kartu kredit, hipotek, dan pinjaman mobil.
Imbal hasilnya mendekati level tertinggi dalam setahun, yaitu 4,6%.
Kenaikan imbal hasil ini membawa konsekuensi fiskal besar, berpotensi menambah hingga US$2 triliun utang federal dalam satu dekade.
Para pedagang obligasi tampaknya menerima bahwa inflasi adalah realitas jangka panjang, yang memperumit tugas para pembuat kebijakan dalam mengelola ekonomi yang semakin tertekan.
>>> Ledakan Tambang Shanxi Picu Lonjakan Harga Batubara Kokas China 8 Persen
Di sisi lain, kepercayaan konsumen domestik turun ke titik terendah baru karena warga menghadapi harga bahan bakar dan sembako yang tinggi, dipicu oleh kenaikan harga energi akibat konflik dengan Iran.
Kenaikan imbal hasil obligasi yang berkelanjutan berpotensi memperburuk kesulitan keuangan konsumen, karena biaya pinjaman biasanya ikut naik.
Imbal hasil obligasi bergerak berlawanan dengan harga; imbal hasil yang lebih tinggi berarti investor menuntut pembayaran bunga tahunan yang lebih besar dari peminjam yang dianggap memiliki risiko lebih tinggi.
Meskipun demikian, obligasi Treasury AS tetap menjadi fondasi sistem keuangan global, didukung oleh ketergantungan dunia pada dolar untuk perdagangan internasional.
Saat ini, Jepang, China, dan Inggris adalah tiga pemegang asing terbesar surat berharga utang AS tersebut.
>>> Alphabet Raup Pendapatan Melonjak 130 Persen, Didorong Google Cloud
Pemicu Utama: Penutupan Selat Hormuz
Robin Brooks, ekonom dan senior fellow di Brookings Institution, mengidentifikasi penutupan panjang Selat Hormuz sebagai katalis utama di balik lonjakan imbal hasil.
Konflik militer yang sedang berlangsung telah memblokir hampir semua lalu lintas komersial dan minyak melalui jalur vital tersebut selama hampir tiga bulan, memicu tekanan pasokan yang menaikkan biaya energi.
"Jika secara ajaib kita melihat kesepakatan damai dan lalu lintas kapal tanker minyak melalui Selat Hormuz normal kembali, imbal hasil jangka pendek dan panjang akan turun dengan cepat.
Namun, jika status quo berlarut-larut, imbal hasil jangka panjang masih harus mengejar ketinggalan," tulis Brooks dalam postingan Substack pekan lalu.
Brooks mencatat bahwa lonjakan terbaru mengindikasikan pelaku pasar kehilangan harapan bahwa konfrontasi geopolitik akan mencapai resolusi cepat.
>>> Jardine Matheson Akuisisi I-MED Radiology Australia Senilai Rp 38 Triliun
Ketidakstabilan keuangan ini diperkirakan akan berlangsung selama berminggu-minggu, karena diplomat AS dan Iran masih buntu terkait program nuklir Iran, sementara Presiden Donald Trump terus mengancam serangan udara lebih lanjut.