The Federal Reserve (The Fed) diprediksi akan kembali mempertahankan suku bunga acuannya dalam pertemuan kebijakan minggu ini.
Langkah ini menandai pertemuan perdana di bawah kepemimpinan Ketua Dewan Gubernur yang baru, Kevin Warsh.
>>> Jadwal Piala Dunia 17 Juni 2026: Prancis vs Senegal, Argentina vs Aljazair
Keputusan mempertahankan suku bunga diperkirakan tidak akan banyak membantu meringankan beban biaya hidup rumah tangga di Amerika Serikat (AS).
Meskipun dalam pencalonannya Warsh sempat mengisyaratkan keterbukaan terhadap pemangkasan suku bunga, para pakar menilai The Fed justru mungkin mempertimbangkan kenaikan suku bunga.
Hal ini karena laju inflasi saat ini masih berada di kisaran dua kali lipat dari target jangka panjang The Fed sebesar 2%.
Situasi ini menempatkan Warsh dalam posisi dilematis di hadapan Presiden AS Donald Trump, yang sebelumnya secara terbuka menyatakan suku bunga seharusnya diturunkan tajam.
Data pasar menunjukkan peluang penurunan suku bunga pada pertemuan Juni 2026 hampir tidak ada.
"Seorang Warsh yang diharapkan sejalan dengan kebijakan Trump kemungkinan besar masih akan mencoba menyeimbangkan sikap netral, sembari tetap mengakui bahwa kenaikan suku bunga adalah sebuah kemungkinan," tulis laporan riset Capital Economics yang dikutip CNBC internasional.
>>> BGN Ubah Skema Insentif Satuan Pelayanan Gizi
Pendekatan Baru dalam Pengukuran Inflasi
Salah satu sorotan utama dari kepemimpinan Warsh adalah pendekatannya terhadap pengukuran inflasi.
Berbeda dengan pendahulunya, Jerome Powell, yang sering mengandalkan inflasi inti (core inflation), Warsh cenderung lebih memilih metode trimmed mean (rata-rata yang dipangkas).
Metode ini bekerja dengan mengecualikan kategori barang dan jasa yang mengalami perubahan harga ekstrem dalam satu bulan. Asumsinya, perubahan tersebut dipicu oleh faktor-faktor unik yang bersifat sementara.
Namun, para ekonom memperingatkan metrik ini tidak selalu akurat karena apa yang dianggap sementara terkadang bisa menjadi tekanan inflasi yang menetap.
Kebijakan The Fed memiliki efek domino bagi dompet masyarakat.
Saat suku bunga acuan tinggi, biaya pinjaman bagi konsumen dan bisnis menjadi lebih mahal untuk mendinginkan ekonomi dan menekan inflasi.
>>> BP BUMN Evaluasi Kinerja Himbara untuk Dorong Ekonomi Nasional
Bagi konsumen, situasi ini menambah tantangan ekonomi. Biaya kebutuhan pokok yang tinggi, terutama energi, terus menekan anggaran rumah tangga.
Kondisi ini memperparah pola ekonomi "berbentuk K" (K-shaped), di mana rumah tangga berpenghasilan tinggi semakin sejahtera sementara rumah tangga berpenghasilan rendah semakin berjuang.
Keputusan kebijakan moneter saat ini diambil di tengah latar belakang ekonomi AS yang menantang.
Selain inflasi yang belum mencapai target, rumah tangga di AS juga menghadapi tekanan ganda akibat biaya energi yang fluktuatif serta dampak ketegangan geopolitik global.
Ketegangan tersebut termasuk dampak konflik regional di Timur Tengah yang memengaruhi rantai pasok dan harga komoditas.
Berdasarkan data dari Komite Ekonomi Bersama Kongres AS, berbagai faktor seperti penerapan tarif dagang dan konflik sejak 2025 hingga Mei 2026 telah memberikan beban biaya tambahan rata-rata lebih dari US$ 3.100 per rumah tangga.
>>> Diaspora Iran Terpecah Jelang Laga Piala Dunia 2026 di Los Angeles
Kondisi makroekonomi yang kompleks ini menuntut kepemimpinan baru di The Fed untuk mampu menjaga keseimbangan antara stabilitas harga dan pertumbuhan ekonomi guna menghindari resesi yang lebih dalam.